
lustrasi seorang anak yang tampak ragu atau sedih, mencerminkan dampak kata-kata orang dewasa pada perkembangan emosi mereka. (Freepik)
JawaPos.com - Empati dan belas kasih merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan yang kuat serta memahami perspektif orang lain di sekitar kita. Namun, tidak semua orang tumbuh dengan kemampuan ini secara optimal, terkadang ada pola asuh masa lalu yang berkontribusi tanpa disadari.
Faktanya, beberapa frasa yang sering diucapkan orang tua kepada anak bisa jadi penghalang perkembangan empati mereka di kemudian hari. Frasa-frasa tersebut sering kali tanpa sengaja menanamkan pemikiran yang kurang peduli pada perasaan orang lain atau bahkan diri sendiri. Melansir Geediting.com pada Jumat (23/05), berikut beberapa ungkapan yang patut diperhatikan.
1. "Berhentilah Menangis! Jangan Cengeng Begitu!"
Satu di antara frasa yang sering didengar adalah larangan untuk menunjukkan emosi seperti menangis atau sedih. Ungkapan ini mengajarkan anak bahwa mengekspresikan kesedihan adalah sebuah kelemahan yang harus dihindari sama sekali.
2. "Hidup Itu Keras, Terima Saja!"
Pernyataan ini membuat anak percaya bahwa penderitaan adalah bagian normal kehidupan yang harus diterima tanpa perlu simpati. Mereka belajar untuk tidak merasa kasihan pada diri sendiri atau orang lain karena setiap orang harus menghadapi kesulitan masing-masing.
3. "Jangan Terlalu Sensitif!"
Frasa ini meremehkan perasaan anak, membuat mereka merasa bahwa emosi yang dirasakan adalah hal berlebihan atau tidak penting. Akhirnya, anak-anak mungkin menutup diri dari pengalaman emosional mereka dan juga perasaan orang lain.
4. "Pikirkan Dirimu Sendiri Saja."
Kalimat ini secara tidak langsung mendorong sikap egois dan fokus pada kepentingan pribadi di atas segalanya. Anak-anak yang sering mendengar ini mungkin kesulitan memahami pentingnya berbagi atau mempertimbangkan kebutuhan orang lain di sekitar.
5. "Kamu Kan Sudah Besar!"
Ungkapan ini digunakan untuk menuntut kemandirian emosional yang tidak sesuai usia anak, memaksa mereka mengabaikan perasaan takut atau sedih. Mereka belajar bahwa mencari dukungan emosional dari orang lain adalah tanda kekanak-kanakan atau kelemahan besar.
Baca Juga: Ortu Bijak Membimbing Anak Gunakan AI
6. "Cepat Lupakan Itu, Tidak Penting!"
Frasa ini mengajarkan anak untuk menekan atau menyangkal pengalaman emosional yang menyakitkan, bukannya memprosesnya dengan sehat. Mereka mungkin kesulitan mengakui rasa sakit orang lain karena dibiasakan menganggap perasaan negatif sebagai sesuatu yang harus segera dilupakan.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
