Photo
JawaPos.com - Di era digital seperti sekarang, kecerdasan buatan (AI) sudah menjadi bagian dari keseharian setiap orang. Termasuk anak-anak. Dampingi dan bimbing anak agar bijak memanfaatkan teknologi tersebut. Bagaimana caranya?
Kecerdasan buatan seperti ChatGPT kini makin sering digunakan anak-anak. Salah satunya untuk menyelesaikan tugas sekolah. Hal itu memunculkan kekhawatiran pada orang tua bahwa anak akan jadi terbiasa menyontek dan malas berpikir.
Menurut psikolog Setyani Alfinuha MPsi, kekhawatiran tersebut perlu disikapi dengan bijak. “Anak-anak kita adalah digital natives. Mereka tumbuh dalam dunia teknologi dan AI adalah bagian dari lingkungan mereka. Justru ini peluang besar untuk menjadikan AI sebagai alat belajar yang bermanfaat,” ujarnya.
Dia menekankan bahwa penggunaan AI bisa memperkaya wawasan dan merangsang rasa ingin tahu anak. Namun, potensi positif itu hanya bisa terjadi jika penggunaannya diarahkan dengan benar.
“Yang perlu diwaspadai adalah saat AI digunakan untuk menggantikan proses berpikir, bukan mendukungnya,” kata psikolog Insania Indonesia itu.
Daripada melarang total, Setyani menyarankan pendekatan berbasis pendampingan dan edukasi. “Pelarangan justru bisa membuat anak makin penasaran dan menggunakan AI diam-diam. Lebih baik tetapkan batasan waktu, jenis tugas, dan konteks penggunaannya,” tuturnya.
Misalnya, anak bisa menggunakan AI untuk bertanya tentang definisi konsep, mencari inspirasi, atau memahami pelajaran yang sulit. Tapi bukan untuk menyalin mentah jawaban dari pertanyaan ujian atau tugas sekolah. Agar lebih efektif, orang tua bisa menjadi fasilitator literasi digital di rumah.
“Dampingi anak saat mereka mulai mengenal AI. Tanyakan pendapat mereka tentang jawaban AI, ajak mereka berpikir ulang dan berdiskusi,” kata Setyani.
Contoh konkret yang bisa dilakukan, lanjutnya, adalah dengan memberi analogi yang mudah dipahami anak. “Katakan pada anak: AI itu seperti kalkulator. Membantu, tapi kamu tetap harus tahu cara menghitung. AI bukan pengganti otakmu,” bebernya.
Melalui pendekatan dialogis seperti itu, anak bisa memahami bahwa proses berpikir tetap harus dilatih. Ini penting untuk menjaga daya kritis, kreativitas, dan tanggung jawab anak dalam belajar. Setyani mengingatkan bahwa proses belajar seharusnya tidak hanya fokus pada hasil.
“Ajarkan anak bahwa memahami lebih penting daripada sekadar menyelesaikan. Proses itulah yang membentuk kemampuan berpikir mereka,” imbuhnya.
Nilai-nilai kejujuran dan etika belajar juga perlu ditanamkan secara konsisten. Caranya? Dengan menjadi contoh, berdiskusi terbuka tentang pentingnya kejujuran, dan memberi penghargaan atas usaha, bukan semata hasil.
“Ketika anak merasa dihargai karena proses belajarnya, bukan hanya nilai akhirnya, mereka akan lebih termotivasi untuk belajar secara utuh, bukan curang,” ungkap Setyani.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
