Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Maret 2026, 00.15 WIB

Ilmuwan AI Wang Jian Sebut Data, Energi, dan Industri Tiongkok Siap Memperluas Akses Global Teknologi AI

Ilustrasi taikonaut Tiongkok di luar angkasa terkait pengembangan komputasi dan AI berbasis orbit melalui proyek Three-Body Computing Constellation (SCMP) - Image

Ilustrasi taikonaut Tiongkok di luar angkasa terkait pengembangan komputasi dan AI berbasis orbit melalui proyek Three-Body Computing Constellation (SCMP)

JawaPos.com - Persaingan teknologi antara Tiongkok dan Amerika Serikat semakin menajam, terutama dalam pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Namun di tengah rivalitas tersebut, sejumlah ilmuwan teknologi di Tiongkok menilai teknologi AI justru perlu diperluas aksesnya secara global agar manfaatnya tidak hanya dinikmati oleh negara maju atau perusahaan teknologi besar.

Pandangan itu disampaikan oleh Wang Jian, ilmuwan AI terkemuka sekaligus direktur Zhejiang Lab. Dia menilai Tiongkok memiliki kombinasi sumber daya yang memungkinkan negara itu berperan lebih besar dalam memperluas akses teknologi AI ke berbagai negara, terutama melalui kekuatan data, pasokan energi, dan basis industri.

Dilansir dari South China Morning Post, Jumat (6/3/2026), Wang menyampaikan pandangannya saat diwawancarai di sela pertemuan legislatif tahunan Tiongkok yang dikenal sebagai two sessions di Beijing. Dia menyatakan, "Dunia masih jauh dari tujuan menjadikan AI sebagai 'produk publik internasional' yang tersedia bagi semua orang," hal ini sebelumnya disampaikan oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pesan kepada World Smart Industry Expo di Chongqing pada September 2025.

Menurut Wang, Tiongkok tidak hanya memiliki kapasitas teknologi untuk mendorong tujuan tersebut, tetapi juga tanggung jawab untuk berkontribusi pada kemajuan teknologi global. Dia menilai semakin banyak negara yang kini bertindak berdasarkan kepentingan nasional masing-masing, dengan Amerika Serikat sebagai contoh yang paling jelas.

"Negara kami bukan hanya 'pasti bertanggung jawab', tetapi juga satu-satunya negara di dunia yang masih dapat berkontribusi pada kemajuan teknologi global sambil tetap berkomitmen pada idealismenya," katanya.

Lebih lanjut, Wang menegaskan bahwa Tiongkok memiliki "sumber daya dan tanggung jawab" untuk memastikan teknologi AI dapat diakses secara lebih merata, baik oleh negara maupun individu. Baginya, pengembangan AI tidak seharusnya hanya terkonsentrasi pada segelintir pusat teknologi global.

Selain faktor data dan industri, Wang menilai struktur pasokan listrik di Tiongkok menjadi keunggulan penting dalam mendukung ekspansi infrastruktur AI, khususnya pusat data berskala besar. Isu energi semakin menjadi perhatian global karena kebutuhan listrik untuk komputasi AI meningkat pesat.

Dia juga menyinggung kondisi infrastruktur listrik di Amerika Serikat yang sebagian dinilai sudah menua, sementara banyak produsen peralatan pembangkit listrik justru berbasis di Tiongkok. Kondisi ini dinilai dapat mempersulit upaya Amerika Serikat untuk dengan cepat meningkatkan kapasitas energi bagi pusat data AI.

Pandangan serupa disampaikan oleh Qi Xiangdong, ketua perusahaan keamanan siber Qi An Xin Technology Group sekaligus anggota Chinese People's Political Consultative Conference. Dia menilai keunggulan utama Tiongkok dalam AI terletak pada besarnya volume data serta luasnya sektor industri yang dapat memanfaatkan teknologi tersebut.

"Kami adalah negara pertama yang membentuk administrasi data nasional, dan kami memiliki akses terpusat terhadap volume data yang sangat besar, yang merupakan elemen dasar untuk memajukan sektor AI," ujarnya kepada media, termasuk South China Morning Post.

Meski demikian, Qi mengakui bahwa Amerika Serikat masih memimpin dalam inovasi dasar AI. Namun dia menilai kekuatan Tiongkok terletak pada kemampuan menerapkan teknologi tersebut secara luas dalam berbagai industri dan skenario nyata.

"Perlombaan AI adalah perlombaan seratus tahun yang baru saja dimulai. Kita belum tahu siapa yang akan menjadi pemenangnya pada akhirnya," kata Qi.

Sementara itu, Wang juga menyoroti peluang kolaborasi global dalam pengembangan teknologi AI, termasuk melalui riset komputasi berbasis luar angkasa. Dia menyebut proyek Three-Body Computing Constellation yang dipimpin Zhejiang Lab sebagai salah satu langkah awal membangun infrastruktur komputasi di orbit.

Gagasan yang dia sebut sebagai upaya untuk "menempatkan AI ke luar angkasa" tersebut menarik perhatian komunitas internasional. Menurut Wang, inisiatif AI and Space Computing Challenge yang diluncurkan bersama International Telecommunication Union telah diikuti lebih dari 200 tim dari sekitar 45 negara.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore