Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 Februari 2026 | 14.25 WIB

Anak-Anak yang Orang Tuanya Menyuruh Mencari Solusi Sendiri Alih-Alih Selalu “Menyelamatkan”, Menunjukkan 8 Kekuatan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang disuruh mencari solusi sendiri./Freepik/freepik - Image

seseorang yang disuruh mencari solusi sendiri./Freepik/freepik

JawaPos. com - Dalam dunia parenting modern, banyak orang tua terjebak dalam pola “rescue parenting” — selalu turun tangan setiap kali anak menghadapi masalah.

Entah itu konflik dengan teman, kesulitan belajar, atau tantangan emosional, orang tua sering kali langsung mengambil alih demi melindungi anak dari rasa tidak nyaman.

Namun, berbagai teori dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa ketika orang tua justru mendorong anak untuk mencari solusi sendiri (dengan tetap memberikan dukungan emosional), anak-anak tersebut cenderung mengembangkan kekuatan mental dan karakter yang luar biasa.

Pendekatan ini selaras dengan teori perkembangan kemandirian dari Jean Piaget dan konsep zona perkembangan proksimal dari Lev Vygotsky, yang menekankan pentingnya tantangan yang sesuai agar anak dapat tumbuh secara optimal.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (17/2), terdapat 8 kekuatan utama yang biasanya berkembang pada anak-anak yang dibiasakan mencari solusi sendiri.

1. Kemandirian yang Kuat

Anak yang terbiasa menyelesaikan masalah sendiri tidak menunggu orang lain untuk memperbaiki keadaan. Mereka belajar bahwa mereka memiliki kapasitas untuk berpikir, mencoba, gagal, dan mencoba lagi.

Kemandirian ini bukan berarti anak ditinggalkan. Justru, mereka tahu bahwa orang tua ada sebagai “penyangga emosional”, bukan sebagai “penyelamat instan”.

Dalam jangka panjang, anak-anak ini tumbuh menjadi individu yang tidak mudah bergantung secara berlebihan pada orang lain.

2. Ketahanan Mental (Resilience)

Ketika orang tua tidak langsung turun tangan, anak belajar menghadapi rasa frustrasi. Mereka mengalami kegagalan kecil, konflik sosial, atau kesalahan — dan belajar bangkit.

Psikologi menyebut kemampuan ini sebagai resilience. Anak yang terbiasa menghadapi tantangan kecil sejak dini cenderung lebih tahan terhadap tekanan di masa dewasa.

Mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan akademik, masalah pekerjaan, atau konflik relasi.

3. Kemampuan Problem Solving yang Tajam

Kemampuan memecahkan masalah bukan bawaan lahir — ia dilatih.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore