Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 Oktober 2025 | 17.00 WIB

Masa Kecil Sulit Membentuk Kebiasaan Seseorang Tidak Mampu Meminta Bantuan di Usia Dewasa

Seorang wanita dan pria pasangannya sedang marah di rumah. (Freepik) - Image

Seorang wanita dan pria pasangannya sedang marah di rumah. (Freepik)

JawaPos.com - Setiap orang pasti pernah berada dalam situasi yang membutuhkan uluran tangan dari orang lain, tetapi ada kekuatan tersembunyi yang menahan keinginan untuk meminta bantuan. Keraguan yang canggung ini seringkali berakar dari keyakinan mendalam bahwa seseorang harus mampu menangani segala sesuatunya sendirian. 

Perasaan ini bukan tentang kemandirian semata, melainkan seringkali dapat ditelusuri kembali pada pengalaman masa kecil yang tidak disengaja. Melansir dari Global English Editing, pengalaman masa kecil tertentu dapat memprogram seseorang untuk enggan mencari pertolongan, bahkan ketika mereka sangat membutuhkannya.

1. Dibesarkan untuk Terlalu Mandiri

Satu di antara filosofi pengasuhan yang umum adalah membesarkan anak-anak agar mandiri dan mampu mengandalkan diri sendiri untuk mencapai kesuksesan. Hal ini memang dapat menanamkan ketahanan dan kepercayaan diri, tetapi terkadang filosofi ini tergelincir ke titik ekstrim. Anak-anak dibesarkan dengan harapan harus menyelesaikan semua masalah mereka sendiri, sehingga mereka percaya meminta bantuan adalah tanda ketidakmampuan. Orang dewasa yang memiliki pengalaman ini seringkali kesulitan meminta bantuan karena meyakini memikul beban sendirian adalah hal yang "benar" untuk dilakukan.

2. Mengalami Penolakan atau Ejekan Saat Meminta Bantuan

Anak-anak yang menghadapi penolakan atau ejekan ketika mencari pertolongan sering membawa ketakutan ini hingga mereka dewasa. Mereka pernah merasa dipermalukan atau kepercayaan dirinya terganggu setelah pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut di masa lalu. Kecemasan akan diabaikan atau ditertawakan menghalangi mereka untuk menjangkau bantuan orang lain, betapapun sulitnya mereka berjuang dalam menghadapi masalah. Anda harus ingat bahwa meminta bantuan bukanlah sebuah kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan bahwa Anda cukup cerdas untuk tahu bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian.

3. Tinggal dalam Lingkungan "Selesaikan Sendiri"

Beberapa anak tumbuh di rumah tangga dengan doktrin "jika ingin diselesaikan dengan benar, lakukan sendiri" di mana orang tua mengharapkan anak-anaknya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Hal ini menciptakan orang dewasa yang kesulitan meminta bantuan karena menganggapnya sebagai tanda ketidakmampuan di lingkungan keluarga. Padahal, meminta bantuan kepada orang lain justru menunjukkan kebijaksanaan untuk menyadari bahwa dua kepala seringkali lebih baik daripada hanya satu di antara milik Anda. Mengakui bahwa kita tidak memiliki semua jawaban adalah kerendahan hati yang penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat.

4. Dihukum Karena Membuat Kesalahan

Pengalaman masa kecil di mana jawaban yang salah mendapat hukuman atau teguran keras dapat membuat anak percaya bahwa membuat kesalahan adalah hal yang tidak bisa diterima. Mereka tumbuh menjadi orang yang terlalu berhati-hati, selalu meragukan diri sendiri, dan takut akan konsekuensi jika berbuat salah. Saat menghadapi kesulitan, mereka memilih berjuang dalam diam daripada meminta bantuan yang justru berisiko membuka ketidaktahuan mereka. Padahal kesalahan adalah bagian dari pembelajaran, sebab melalui kesalahan kita dapat bertumbuh dan memperbaiki diri.

5. Menjadi Anak yang "Bertanggung Jawab"

Anak sulung atau anak tunggal sering memikul beban harapan yang besar di keluarga untuk menjadi panutan bagi saudara kandungnya. Mereka didorong untuk menjadi anak yang sempurna dan mampu menangani segala sesuatu tanpa cela sehingga mereka merasa tidak mampu meminta bantuan. Anak-anak ini merasa tidak bisa meminta bantuan karena khawatir akan merusak citra kompetensi yang diharapkan orang lain terhadap dirinya. Padahal, meminta bantuan hanya menunjukkan bahwa Anda adalah manusia biasa, bukan berarti Anda tidak lagi bertanggung jawab.

6. Emosi Mereka Dianggap Tidak Valid

Anak-anak yang emosinya sering dikesampingkan, seperti diberi tahu "berhenti menangis" padahal ia sedang terluka, bisa belajar untuk menekan perasaan dan kebutuhannya. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa perasaan mereka tidak penting atau tidak layak untuk diperhatikan dan mendapatkan dukungan. Hal ini berlanjut hingga dewasa, di mana mereka kesulitan meminta bantuan karena merasa perjuangan mereka tidak cukup signifikan untuk mendapatkan asistensi. Ingatlah selalu bahwa Anda berhak mendapatkan dukungan dan pemahaman, dan wajar untuk meminta bantuan ketika merasa kesulitan.

7. Merasa Dirinya Adalah Beban

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore