
ILustrasi gentle parenting (Dok. Freepik/Jcomp)
JawaPos.com - Di era digital seperti sekarang, para orang tua dihadapkan pada beragam pilihan pola asuh yang seringkali membingungkan. Media sosial penuh dengan tips singkat, kutipan inspiratif, hingga tren pengasuhan yang viral. Salah satu pendekatan yang semakin populer adalah gentle parenting, yaitu sebuah cara membesarkan anak yang menekankan empati, rasa hormat, dan komunikasi positif.
Gentle parenting hadir sebagai jawaban bagi orang tua yang ingin menghindari gaya asuh keras yang penuh hukuman, tetapi juga tidak ingin terjebak pada pola asuh permisif yang tanpa batas. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan anak yang percaya diri, mampu mengelola emosinya, dan tetap menghormati orang lain.
Dikutip dari Cleveland Clinic dan PositivePsychology.com, gentle parenting berfokus pada empat prinsip utama, yaitu empati, rasa hormat, pemahaman, dan batasan yang sehat. Dengan kata lain, gentle parenting tidak hanya fokus pada perilaku anak, melainkan juga pada kualitas hubungan orang tua dan anak yang saling memahami.
Dalam gentle parenting, orang tua belajar mengakui perasaan anak tanpa menghakimi. Ketika anak marah atau sedih, orang tua tidak buru-buru menyuruhnya diam, melainkan memberi ruang untuk mengekspresikan emosi.
Sebagai contoh, dengan mengatakan "Mama tahu kamu kecewa karena mainannya rusak" dapat membuat anak merasa dipahami, sehingga lebih mudah diarahkan. Validasi ini juga membantu anak belajar mengenali dan mengatur emosinya sendiri.
Gentle parenting bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja. Justru, pendekatan ini menekankan disiplin positif, yaitu membantu anak memahami konsekuensi dari tindakannya dengan cara yang konstruktif.
Alih-alih menghukum, orang tua bisa mengajak anak berdiskusi, mencari solusi bersama, atau memberi contoh perilaku yang baik. Dengan begitu, disiplin menjadi proses belajar, bukan rasa takut.
Meski lembut, gentle parenting tetap memerlukan batasan. Anak diberi kesempatan memilih dalam ruang lingkup yang sesuai. Contohnya, orang tua bisa berkata, "Kamu mau pakai baju merah atau biru hari ini?" Dengan cara ini, anak belajar mandiri dan bertanggung jawab, tetapi tetap berada dalam arahan orang tua.
Hubungan yang hangat dan penuh kedekatan adalah inti dari gentle parenting. Anak yang merasa dicintai dan didengar cenderung lebih terbuka terhadap bimbingan orang tua. Koneksi ini menciptakan rasa aman, yang pada akhirnya membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mudah berempati pada orang lain.
Gentle parenting bukanlah metode yang sempurna dan tidak selalu mudah diterapkan. Orang tua bisa merasa lelah atau ragu ketika menghadapi tantrum atau sikap menantang dari anak. Namun, kunci utamanya ada pada konsistensi, kesabaran, dan kesediaan untuk terus belajar bersama anak.
Dengan menyeimbangkan empati, disiplin positif, dan batasan yang jelas, gentle parenting bisa menjadi pendekatan yang membangun ikatan emosional kuat sekaligus membentuk karakter anak yang sehat secara emosional maupun sosial.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
