Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 Agustus 2025 | 13.30 WIB

Bahaya Brainrot! Konten Absurd di Medsos Ternyata Mengancam Perkembangan Otak Anak dan Remaja

Anomali Brainrot Tung Tung Sahur (TikTok @noxaasht)

JawaPos.com - Fenomena anomali brainrot, konten absurd yang berlebihan dan viral bisa terlihat lucu atau menghibur, namun menyimpan ancaman serius terhadap pemahaman realitas dan perkembangan psikologis anak-anak serta remaja. 

Melansir dari laman ipb.ac.id, menurut pakar dari IPB University, visual yang "hiper-absurd" seperti manusia berbentuk pentungan kayu atau hiu memakai sepatu dapat memicu pelepasan dopamin berlebihan yang mengganggu fokus serta emosi anak.

Sumber lain dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Yogyakarta menekankan bahwa otak anak yang masih berkembang belum mampu menyaring informasi secara matang dan bisa terpengaruh konten absurd secara negatif. Melansir dari akun resmi LLDIKTI Wilayah V, konten anomali disebut sebagai ancaman tersembunyi bagi perkembangan psikologis anak. 

Secara mental, anak yang terlalu banyak menonton konten brainrot bisa kehilangan keterampilan berpikir sistematis dan menjadi lebih impulsif dalam memahami dunia di sekitarnya. Apalagi narasi absurd tanpa konteks memperparah bingungnya struktur bahasa dan logika mereka.

Secara emosional, paparan terus-menerus terhadap konten absurd juga dapat mengikis kemampuan empati, karena anak terbiasa melihat situasi tanpa konteks emosional yang nyata. Ini membuat mereka sulit merasakan atau memahami perasaan orang lain secara autentik.

Konsentrasi anak juga bisa terdampak, mereka menjadi mudah terdistraksi, lupa instruksi sederhana, dan berbicara dengan pola bahasa yang patah-patah atau terbatas. Ini menandakan adanya kemunduran dalam kemampuan kognitif dan bahasa.

Untuk melindungi anak dari dampak negatif tersebut, orang tua disarankan untuk menjelaskan bahwa konten absurd itu sifatnya buatan, bukan realitas. Bisa dengan mengajari anak mengenali perbedaan antara fantasi dan kenyataan, misalnya dengan mengatakan "hiu di dunia nyata tidak memakai sepatu karena mereka adalah hewan."

Langkah selanjutnya adalah membatasi akses gawai dan durasi menonton konten, termasuk menghindari penggunaan gadget sejam sebelum tidur. Batasi durasi sebanyak 5–10 menit per hari agar anak tidak kewalahan oleh paparan visual berlebihan.

Selain itu, lakukan digital detox secara berkala agar otak dan emosi anak sempat "reload". Aktivitas sederhana seperti bermain di luar rumah, membaca buku, atau ngobrol langsung dengan keluarga bisa membantu mengembalikan keseimbangan mental.

Akhirnya, fenomena brainrot bukan sekadar tren aneh di media sosial, tetapi pengingat bahwa kualitas konten digital bisa berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak. Kesadaran dan keterlibatan aktif orang tua menjadi kunci utama agar anak bisa menikmati teknologi tanpa kehilangan daya pikir, empati, dan suasana hati yang sehat.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore