Anomali Brainrot Tung Tung Sahur (TikTok @noxaasht)
JawaPos.com - Fenomena anomali brainrot, konten absurd yang berlebihan dan viral bisa terlihat lucu atau menghibur, namun menyimpan ancaman serius terhadap pemahaman realitas dan perkembangan psikologis anak-anak serta remaja.
Melansir dari laman ipb.ac.id, menurut pakar dari IPB University, visual yang "hiper-absurd" seperti manusia berbentuk pentungan kayu atau hiu memakai sepatu dapat memicu pelepasan dopamin berlebihan yang mengganggu fokus serta emosi anak.
Sumber lain dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Yogyakarta menekankan bahwa otak anak yang masih berkembang belum mampu menyaring informasi secara matang dan bisa terpengaruh konten absurd secara negatif. Melansir dari akun resmi LLDIKTI Wilayah V, konten anomali disebut sebagai ancaman tersembunyi bagi perkembangan psikologis anak.
Secara mental, anak yang terlalu banyak menonton konten brainrot bisa kehilangan keterampilan berpikir sistematis dan menjadi lebih impulsif dalam memahami dunia di sekitarnya. Apalagi narasi absurd tanpa konteks memperparah bingungnya struktur bahasa dan logika mereka.
Secara emosional, paparan terus-menerus terhadap konten absurd juga dapat mengikis kemampuan empati, karena anak terbiasa melihat situasi tanpa konteks emosional yang nyata. Ini membuat mereka sulit merasakan atau memahami perasaan orang lain secara autentik.
Konsentrasi anak juga bisa terdampak, mereka menjadi mudah terdistraksi, lupa instruksi sederhana, dan berbicara dengan pola bahasa yang patah-patah atau terbatas. Ini menandakan adanya kemunduran dalam kemampuan kognitif dan bahasa.
Untuk melindungi anak dari dampak negatif tersebut, orang tua disarankan untuk menjelaskan bahwa konten absurd itu sifatnya buatan, bukan realitas. Bisa dengan mengajari anak mengenali perbedaan antara fantasi dan kenyataan, misalnya dengan mengatakan "hiu di dunia nyata tidak memakai sepatu karena mereka adalah hewan."
Langkah selanjutnya adalah membatasi akses gawai dan durasi menonton konten, termasuk menghindari penggunaan gadget sejam sebelum tidur. Batasi durasi sebanyak 5–10 menit per hari agar anak tidak kewalahan oleh paparan visual berlebihan.
Selain itu, lakukan digital detox secara berkala agar otak dan emosi anak sempat "reload". Aktivitas sederhana seperti bermain di luar rumah, membaca buku, atau ngobrol langsung dengan keluarga bisa membantu mengembalikan keseimbangan mental.
Akhirnya, fenomena brainrot bukan sekadar tren aneh di media sosial, tetapi pengingat bahwa kualitas konten digital bisa berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak. Kesadaran dan keterlibatan aktif orang tua menjadi kunci utama agar anak bisa menikmati teknologi tanpa kehilangan daya pikir, empati, dan suasana hati yang sehat.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
