
Ilustrasi seorang anak kecil yang sedang mencoba memanipulasi orang tuanya, sementara orang tua tampak bingung./Freepik
JawaPos.com - Setiap orang tua tentu ingin membesarkan anak-anak yang jujur dan tulus. Namun, tanpa disadari, beberapa kebiasaan pola asuh justru bisa mendorong perilaku manipulatif pada anak. Hal ini sering terjadi tanpa disadari orang tua itu sendiri.
Melansir dari Geediting.com Minggu (29/6), ada delapan kebiasaan umum yang dapat tanpa sengaja memberi imbalan perilaku manipulatif.
Mengenali kebiasaan ini penting agar kita dapat membimbing anak. Ini membantu mereka mengekspresikan diri dengan cara yang lebih sehat dan jujur.
1. Menuruti Amukan atau Tantrum Anak
Ketika orang tua menyerah pada amukan anak, mereka tanpa sengaja menguatkan perilaku tersebut. Anak belajar bahwa meledakkan emosi adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Ini menciptakan pola perilaku yang sulit diubah.
Anak akan terus menggunakan tantrum sebagai alat manipulasi. Ini terjadi setiap kali mereka tidak mendapatkan apa yang dikehendaki.
2. Selalu Menyelesaikan Masalah Anak
Orang tua yang selalu memecahkan masalah anak dapat mengajarkan mereka untuk bersikap tidak berdaya. Anak belajar bahwa dengan berpura-pura tidak mampu, orang lain akan selalu datang membantu. Ini menghambat perkembangan kemandirian mereka.
Kebiasaan ini membuat anak kurang memiliki inisiatif. Mereka justru bergantung pada manipulasi untuk mendapatkan bantuan.
3. Tidak Menegakkan Konsekuensi Perilaku Buruk
Jika orang tua tidak konsisten menegakkan konsekuensi atas perilaku buruk, anak akan berpikir tindakannya dapat diterima. Mereka tidak akan belajar batasan yang jelas antara benar dan salah. Akibatnya, perilaku manipulatif akan terus berlanjut.
Anak-anak ini tidak melihat adanya alasan untuk mengubah kebiasaan. Mereka merasa tindakannya tidak memiliki dampak serius.
4. Kurangnya Konsistensi Aturan dan Ekspektasi
Kurangnya konsistensi dalam aturan dan harapan memungkinkan anak untuk mengeksploitasi ketidakjelasan. Mereka akan mencari celah dalam sistem yang tidak stabil ini. Ini memberi mereka kesempatan untuk memanipulasi situasi.
Anak belajar memanfaatkan inkonsistensi. Ini demi mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
