Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Juni 2025 | 04.27 WIB

8 Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Pemicu Perilaku Manipulatif Anak

Ilustrasi seorang anak kecil yang sedang mencoba memanipulasi orang tuanya, sementara orang tua tampak bingung./Freepik - Image

Ilustrasi seorang anak kecil yang sedang mencoba memanipulasi orang tuanya, sementara orang tua tampak bingung./Freepik

JawaPos.com - Setiap orang tua tentu ingin membesarkan anak-anak yang jujur dan tulus. Namun, tanpa disadari, beberapa kebiasaan pola asuh justru bisa mendorong perilaku manipulatif pada anak. Hal ini sering terjadi tanpa disadari orang tua itu sendiri.

Melansir dari Geediting.com Minggu (29/6), ada delapan kebiasaan umum yang dapat tanpa sengaja memberi imbalan perilaku manipulatif.

Mengenali kebiasaan ini penting agar kita dapat membimbing anak. Ini membantu mereka mengekspresikan diri dengan cara yang lebih sehat dan jujur.

1. Menuruti Amukan atau Tantrum Anak

Ketika orang tua menyerah pada amukan anak, mereka tanpa sengaja menguatkan perilaku tersebut. Anak belajar bahwa meledakkan emosi adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Ini menciptakan pola perilaku yang sulit diubah.

Anak akan terus menggunakan tantrum sebagai alat manipulasi. Ini terjadi setiap kali mereka tidak mendapatkan apa yang dikehendaki.

2. Selalu Menyelesaikan Masalah Anak

Orang tua yang selalu memecahkan masalah anak dapat mengajarkan mereka untuk bersikap tidak berdaya. Anak belajar bahwa dengan berpura-pura tidak mampu, orang lain akan selalu datang membantu. Ini menghambat perkembangan kemandirian mereka.

Kebiasaan ini membuat anak kurang memiliki inisiatif. Mereka justru bergantung pada manipulasi untuk mendapatkan bantuan.

3. Tidak Menegakkan Konsekuensi Perilaku Buruk

Jika orang tua tidak konsisten menegakkan konsekuensi atas perilaku buruk, anak akan berpikir tindakannya dapat diterima. Mereka tidak akan belajar batasan yang jelas antara benar dan salah. Akibatnya, perilaku manipulatif akan terus berlanjut.

Anak-anak ini tidak melihat adanya alasan untuk mengubah kebiasaan. Mereka merasa tindakannya tidak memiliki dampak serius.

4. Kurangnya Konsistensi Aturan dan Ekspektasi

Kurangnya konsistensi dalam aturan dan harapan memungkinkan anak untuk mengeksploitasi ketidakjelasan. Mereka akan mencari celah dalam sistem yang tidak stabil ini. Ini memberi mereka kesempatan untuk memanipulasi situasi.

Anak belajar memanfaatkan inkonsistensi. Ini demi mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore