
ilustrasi. (freepik)
JawaPos.com-Mendidik anak adalah tantangan besar bagi setiap orang tua. Kita semua ingin anak-anak tumbuh menjadi individu yang baik, bertanggung jawab, dan penuh rasa hormat. Namun, tanpa disadari, pola asuh tertentu justru dapat berdampak negatif pada perkembangan anak.
Psikologi menunjukkan bahwa beberapa kebiasaan dalam mendidik anak bisa memicu perilaku pemberontakan. Alih-alih patuh dan disiplin, anak justru bisa menjadi sulit diatur, melawan otoritas, dan bahkan menentang aturan yang diberikan.
Kabar baiknya, pola asuh bukan sesuatu yang statis. Dengan memahami kesalahan umum yang sering dilakukan orang tua, kita bisa mulai memperbaiki pendekatan dalam membesarkan anak-anak agar mereka tumbuh dengan keseimbangan yang sehat antara kebebasan dan kedisiplinan.
Dilansir JawaPos.com dari laman Geediting.com pada Rabu, 5 Maret 2025, berikut adalah 7 pola asuh yang dapat menyebabkan anak menjadi nakal dan pemberontak, serta cara mengatasinya menurut psikologi.
1. Terlalu Mengontrol Kehidupan Anak
Setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, kontrol yang berlebihan bisa membuat anak merasa terkekang. Misalnya, ketika orang tua menentukan semua aspek kehidupan anak—dari pilihan teman, kegiatan sehari-hari, hingga masa depan mereka—anak merasa tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri.
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang terlalu dikontrol sering kali merasa frustrasi. Akibatnya, mereka bisa memberontak dengan melanggar aturan, menyembunyikan sesuatu dari orang tua, atau bahkan melawan hanya untuk merasa lebih bebas.
Cara Mengatasinya:
Berikan anak kebebasan dalam batas yang jelas.
Libatkan mereka dalam pengambilan keputusan, seperti memilih kegiatan ekstrakurikuler atau menentukan jadwal belajar.
Bangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa dipercaya dan didengar.
2. Tidak Mendengarkan Perasaan Anak
Banyak orang tua yang tidak sengaja mengabaikan perasaan anak. Ketika anak bercerita tentang sesuatu yang mengganggunya, respons seperti "Itu bukan masalah besar," atau "Jangan terlalu dipikirkan" bisa membuat anak merasa perasaannya tidak valid.
Dalam jangka panjang, anak-anak yang merasa diabaikan secara emosional akan mencari cara lain untuk mendapatkan perhatian, sering kali dengan perilaku yang tidak diinginkan seperti membangkang atau bertindak kasar.
Cara Mengatasinya:

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
