Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Maret 2025 | 19.59 WIB

7 Pola Asuh Orang Tua yang Bisa Menyebabkan Anak Menjadi Nakal dan Pemberontak, Menurut Psikologi

ilustrasi. (freepik) - Image

ilustrasi. (freepik)

JawaPos.com-Mendidik anak adalah tantangan besar bagi setiap orang tua. Kita semua ingin anak-anak tumbuh menjadi individu yang baik, bertanggung jawab, dan penuh rasa hormat. Namun, tanpa disadari, pola asuh tertentu justru dapat berdampak negatif pada perkembangan anak.

Psikologi menunjukkan bahwa beberapa kebiasaan dalam mendidik anak bisa memicu perilaku pemberontakan. Alih-alih patuh dan disiplin, anak justru bisa menjadi sulit diatur, melawan otoritas, dan bahkan menentang aturan yang diberikan.

Kabar baiknya, pola asuh bukan sesuatu yang statis. Dengan memahami kesalahan umum yang sering dilakukan orang tua, kita bisa mulai memperbaiki pendekatan dalam membesarkan anak-anak agar mereka tumbuh dengan keseimbangan yang sehat antara kebebasan dan kedisiplinan.

Dilansir JawaPos.com dari laman Geediting.com pada Rabu, 5 Maret 2025, berikut adalah 7 pola asuh yang dapat menyebabkan anak menjadi nakal dan pemberontak, serta cara mengatasinya menurut psikologi.

1. Terlalu Mengontrol Kehidupan Anak

Setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, kontrol yang berlebihan bisa membuat anak merasa terkekang. Misalnya, ketika orang tua menentukan semua aspek kehidupan anak—dari pilihan teman, kegiatan sehari-hari, hingga masa depan mereka—anak merasa tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang terlalu dikontrol sering kali merasa frustrasi. Akibatnya, mereka bisa memberontak dengan melanggar aturan, menyembunyikan sesuatu dari orang tua, atau bahkan melawan hanya untuk merasa lebih bebas.

Cara Mengatasinya:

Berikan anak kebebasan dalam batas yang jelas.

Libatkan mereka dalam pengambilan keputusan, seperti memilih kegiatan ekstrakurikuler atau menentukan jadwal belajar.

Bangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa dipercaya dan didengar.

2. Tidak Mendengarkan Perasaan Anak

Banyak orang tua yang tidak sengaja mengabaikan perasaan anak. Ketika anak bercerita tentang sesuatu yang mengganggunya, respons seperti "Itu bukan masalah besar," atau "Jangan terlalu dipikirkan" bisa membuat anak merasa perasaannya tidak valid.

Dalam jangka panjang, anak-anak yang merasa diabaikan secara emosional akan mencari cara lain untuk mendapatkan perhatian, sering kali dengan perilaku yang tidak diinginkan seperti membangkang atau bertindak kasar.

Cara Mengatasinya:

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore