
Ilustrasi mobil LCGC makin terpojok dengan hadirnya mobil elektrivikasi Rp200 jutaan.
JawaPos.com - Peta pasar otomotif Indonesia mulai mengalami perubahan. Kendaraan berteknologi elektrifikasi seperti mobil listrik, hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan range extender electric vehicle (REEV) kini semakin mendapat tempat di pasar kendaraan baru.
Data hingga Agustus menunjukkan, New Energy Vehicle (NEV) telah menguasai sekitar 26,1 persen market share nasional. Kategori NEV tersebut mencakup mobil listrik berbasis baterai atau BEV, hybrid, PHEV, hingga kendaraan dengan teknologi range extender.
Artinya menurut Kukuh Kumara, Sekertaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), kendaraan konvensional dengan mesin pembakaran internal atau ICE kini berada di kisaran 70 persen lebih dari total pasar.
"Mobil listrik Rp200 jutaan mulai menarik konsumen, ini jadi salah satu pendorong pertumbuhan elektrifikasi adalah semakin banyaknya mobil listrik dengan harga yang lebih terjangkau. Mobil listrik di kisaran Rp200 jutaan mulai menarik perhatian konsumen, terutama masyarakat perkotaan," ujar Kukuh Kumara saat di temui di acara GIIAS di Bandung (9/9) kepada JawaPos.com.
Kukuh menambahkan kalau biaya operasional menjadi salah satu pertimbangan. Untuk penggunaan harian di dalam kota, mobil listrik dinilai menawarkan efisiensi karena tidak membutuhkan bensin dan memiliki kebutuhan perawatan yang berbeda dibandingkan kendaraan bermesin konvensional.
"Perubahan perilaku konsumen ini menjadi tantangan baru bagi segmen LCGC. Mobil tipe LCGC menghadapi tantangan teknologi
Segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang selama lebih dari satu dekade menjadi pilihan masyarakat untuk mendapatkan mobil dengan harga terjangkau kini menghadapi kompetisi dari teknologi baru," ungkap Kukuh.
Tekanan tersebut bukan semata karena harga, tetapi juga karena konsumen mendapatkan pilihan kendaraan dengan teknologi elektrifikasi yang menawarkan efisiensi dan biaya operasional berbeda.
Kondisi ini membuka pertanyaan mengenai masa depan LCGC di Indonesia. Apakah kendaraan murah ke depan tetap menggunakan mesin bensin konvensional atau mulai mengadopsi teknologi hybrid maupun elektrifikasi?
Kondisi ini menurut Kukuh bukan soal subsidi, tetapi inovasi. Persaingan kendaraan masa depan dinilai tidak seharusnya hanya bertumpu pada subsidi.
Ketika mobil dengan teknologi baru semakin terjangkau dan menawarkan biaya operasional yang kompetitif, industri otomotif dituntut menghadirkan inovasi yang benar-benar sesuai kebutuhan konsumen.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022