Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Agustus 2026 | 20.53 WIB

Bangun Kendaraan Nasional Tak Semudah Tempel Merek, Harus Kuasai Teknologi

Presiden Prabowo Subianto meninjau proses produksi motor listrik di Fasilitas Produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 13 Agustus 2026. Presiden meluncurkan Motor Listrik Nasional (MoLiNas) beserta ekosistem pendukungnya di Fasilitas Produksi ALVA. (ANTARA/BPMI Setpres-Muchlis Jr) - Image

Presiden Prabowo Subianto meninjau proses produksi motor listrik di Fasilitas Produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 13 Agustus 2026. Presiden meluncurkan Motor Listrik Nasional (MoLiNas) beserta ekosistem pendukungnya di Fasilitas Produksi ALVA. (ANTARA/BPMI Setpres-Muchlis Jr)

JawaPos.com - Rencana menghidupkan kembali kendaraan nasional kembali mengemuka.

Pemerintah bahkan tengah menyiapkan insentif khusus untuk mobil dan motor yang masuk kategori nasional.

Namun, menurut Pakar Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu, membangun kendaraan nasional tidak sesederhana membuat produk, memasang merek Indonesia, lalu menjualnya ke pasar.

Persoalan sebenarnya jauh lebih mendasar: siapa yang menguasai desain, platform, software, teknologi inti, kekayaan intelektual, hingga rantai pasok kendaraan tersebut?

Yannes menilai Indonesia selama puluhan tahun sebenarnya telah membuktikan mampu menjadi basis produksi otomotif. Pabrik, pemasok, dealer, pembiayaan dan jaringan purnajual telah berkembang luas.

"Masalahnya bukan Indonesia tidak mampu membuat kendaraan, tetapi selama puluhan tahun kebijakan industri kita lebih berhasil membangun basis produksi daripada membangun kepemilikan produk," ujar Yannes kepada JawaPos.com.

Sejak pabrikan Jepang masuk secara mendalam pada 1970-an, menurut dia, industri otomotif Indonesia berkembang dengan pola yang membuat pemain global menguasai arsitektur produk, sementara pengusaha nasional lebih banyak berperan sebagai pemegang lisensi dan distributor.

Akibatnya, ukuran keberhasilan industri terlalu lama berpusat pada investasi, jumlah produksi, ekspor dan TKDN. Padahal, menurut Yannes, indikator tersebut belum cukup untuk menyebut sebuah industri benar-benar mandiri.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore