Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Mei 2026 | 16.58 WIB

CLTC vs WLTP, Standar Mana yang Lebih Realistis untuk Pengguna Mobil Listrik di Indonesia?

Salah satu tipe baterai yang digunakan mobil listrik dari Chery. (Nanda/JawaPos.com) - Image

Salah satu tipe baterai yang digunakan mobil listrik dari Chery. (Nanda/JawaPos.com)

JawaPos.com - Banyak calon pembeli mobil listrik terpukau melihat klaim jarak tempuh hingga 500 km bahkan 600 km dalam sekali pengisian daya. Namun saat digunakan di jalan raya, angka tersebut sering kali tidak tercapai. Penyebabnya bukan karena baterai bermasalah, melainkan perbedaan standar pengujian yang digunakan pabrikan.

Saat ini, CLTC dan WLTP menjadi dua acuan yang paling sering digunakan. Lalu, standar mana yang lebih realistis untuk kondisi berkendara di Indonesia?

Kedua standar tersebut digunakan untuk mengukur jarak tempuh mobil listrik, namun hasil yang ditampilkan bisa berbeda cukup jauh meski menggunakan kendaraan yang sama.

Perbedaan inilah yang sering membuat konsumen bingung saat membandingkan berbagai model mobil listrik yang beredar di pasar. Pada artikel sebelumnya di jabarkan apa itu CLTC dan WLTP. Mana yang lebih cocok untuk Indonesia?

Jika melihat karakter lalu lintas di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, atau Medan yang sering mengalami kemacetan, sebenarnya CLTC masih cukup relevan untuk menggambarkan penggunaan harian di dalam kota.

Namun untuk penggunaan yang lebih beragam, termasuk perjalanan luar kota, tol, dan kecepatan tinggi, WLTP dinilai lebih mendekati kondisi sebenarnya.

Banyak pengamat otomotif menyebut angka WLTP biasanya hanya berbeda sekitar 5-15 persen dari penggunaan riil. Sementara hasil CLTC bisa berbeda lebih jauh tergantung gaya berkendara dan kondisi jalan.

Faktor yang Membuat Jarak Tempuh Berbeda

Perlu dipahami bahwa angka CLTC maupun WLTP tetap merupakan hasil pengujian laboratorium. Dalam penggunaan sehari-hari, banyak faktor yang dapat memengaruhi jarak tempuh mobil listrik, seperti: penggunaan AC, kondisi lalu lintas, kecepatan kendaraan, gaya mengemudi, beban penumpang dan barang, kondisi jalan dan suhu lingkungan.

Misalnya, mobil listrik yang digunakan di jalan tol dengan kecepatan konstan 100-120 km/jam umumnya akan mengonsumsi energi lebih besar dibanding saat digunakan di perkotaan.

Jangan Hanya Lihat Angka Tertinggi

Saat membeli mobil listrik, konsumen sebaiknya tidak langsung terpaku pada angka jarak tempuh terbesar. Yang lebih penting adalah memahami standar pengujian yang digunakan.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore