Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 11 Mei 2026 | 22.04 WIB

Elit Global dan Transisi Kendaraan Listrik: Lonjakan EV Berisiko Memperdalam Ketimpangan Ekonomi Dunia

Ilustrasi kendaraan listrik (EV) dalam tren transisi energi global yang cepat, namun masih didominasi kelompok berpendapatan tinggi (The Conversation) - Image

Ilustrasi kendaraan listrik (EV) dalam tren transisi energi global yang cepat, namun masih didominasi kelompok berpendapatan tinggi (The Conversation)

JawaPos.com - Percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) kini menjadi salah satu agenda utama dalam transisi energi global yang mendorong perubahan besar pada ekosistem teknologi bersih. Namun di balik narasi kemajuan tersebut, muncul pertanyaan kritis: apakah revolusi EV benar-benar bersifat inklusif, atau justru berpotensi memperlebar jurang ketimpangan sosial?

Australia saat ini berada dalam fase lonjakan signifikan adopsi kendaraan listrik. Kombinasi antara mobil listrik berbasis baterai, plug-in hybrid, dan hybrid konvensional perlahan menggeser dominasi kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel dalam jangka panjang.

Di sisi lingkungan, tren ini jelas positif karena menurunkan emisi sektor transportasi. Namun, dilansir dari The Conversation, Senin (11/5/2026), terdapat konsekuensi sosial yang tidak bisa diabaikan terkait distribusi manfaat ekonomi dari transisi tersebut.

Penelitian terbaru yang membandingkan pola kepemilikan panel surya dan kendaraan listrik di Australia menunjukkan perbedaan mencolok. Jika pada panel surya justru rumah tangga dengan tekanan ekonomi lebih tinggi terdorong beradaptasi demi menekan biaya listrik, maka pada kendaraan listrik pola yang muncul justru berlawanan.

Dalam studi terhadap 673 kode pos di New South Wales (NSW), pembelian EV terkonsentrasi pada kelompok berpendapatan tinggi. Variabel gabungan antara pendapatan dan beban cicilan rumah menunjukkan bahwa "kekayaan menjadi prediktor terkuat adopsi kendaraan listrik," di mana setiap peningkatan kapasitas ekonomi hampir menggandakan tingkat registrasi EV.

Selain faktor pendapatan, kepemilikan kendaraan di wilayah suburban juga menjadi pendorong utama. Daerah yang sangat bergantung pada mobil pribadi menunjukkan tingkat adopsi EV lebih tinggi, sementara kawasan perkotaan yang lebih padat justru tertinggal.

Secara geografis, sekitar 85 persen registrasi EV terpusat di Greater Sydney, terutama di kawasan elit seperti Eastern Suburbs dan Lower North Shore. Sebaliknya, wilayah Western Sydney dan sebagian besar daerah regional masih tertinggal dalam transisi ini.

Pola ini memperlihatkan bahwa EV belum menggantikan kebutuhan mobilitas, melainkan hanya mengikuti pola konsumsi mobil yang sudah ada sebelumnya. Dengan kata lain, teknologi ini belum mengubah struktur ketergantungan transportasi, tetapi memperkuatnya di segmen tertentu.

Menariknya, wilayah yang memiliki akses transportasi alternatif seperti berjalan kaki atau bersepeda justru menunjukkan adopsi EV yang lebih rendah. Hal ini menandakan bahwa kebutuhan kendaraan listrik tidak tumbuh secara universal, melainkan sangat bergantung pada struktur kota dan infrastruktur mobilitas.

Dalam riset yang sama, penulis menegaskan bahwa "tanpa kebijakan yang tepat sasaran, transisi kendaraan listrik berisiko memperkuat ketimpangan sosial yang sudah ada", karena kelompok berpenghasilan tinggi akan menikmati penghematan biaya operasional lebih cepat dibanding kelompok lain yang masih terjebak pada harga bahan bakar fosil yang fluktuatif.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore