
Penampakan Taksi Green SM yang tertabrak KRL Commuterline yang di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com-Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengungkapkan bahwa mobil listrik memiliki ketahanan tinggi terhadap gangguan elektromagnetik, sehingga kecil kemungkinan mobil listrik mati mendadak ketika melintasi jalur kereta api (KA).
’’Secara teknis, EV memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mesin secara mendadak saat melintasi rel kereta api, karena medan elektromagnetik yang dihasilkan rel terlalu lemah untuk memengaruhi sistem kelistrikan kendaraan, baik EV maupun mobil berbahan bakar konvensional (ICE),” ujarnya dihubungi dari Jakarta, Rabu (29/4).
Ia menjelaskan, mobil listrik modern telah dirancang dengan pelindung interferensi elektromagnetik dan wajib lolos serangkaian uji kompatibilitas sebelum dipasarkan.
Standar tersebut mencakup berbagai regulasi internasional seperti ISO 11451 dan ISO 11452 untuk memastikan ketahanan kendaraan dan komponennya terhadap paparan medan elektromagnetik, serta ISO 7637 yang menguji gangguan listrik pada sistem tegangan tinggi. Selain itu, terdapat pula standar CISPR dan regulasi UNECE R10 yang mengatur emisi radiasi serta kompatibilitas elektromagnetik kendaraan, ungkap Yannes.
Menurutnya, jika medan magnet rel benar-benar dapat mematikan mobil listrik, hal tersebut seharusnya sudah terdeteksi dalam proses sertifikasi, terutama pada pengujian yang secara spesifik mengukur imunitas terhadap medan magnet.
’’Ini adalah regulasi wajib yang harus dipenuhi sebelum kendaraan boleh dipasarkan di banyak negara. Artinya, setiap EV yang dipasarkan secara legal wajib melewati serangkaian pengujian ini.” kata Yannes.
Sebaliknya, ia menilai penyebab paling rasional jika mobil listrik mogok di tengah rel KA berasal dari faktor internal kendaraan. Beberapa kemungkinan antara lain baterai tegangan rendah 12 volt (aki) yang melemah sehingga mengganggu proses booting sistem utama, gangguan pada sistem sensor akibat getaran berkepanjangan, hingga aktivasi otomatis fitur keamanan seperti immobilizer saat terdeteksi anomali. ’’Ketika sistem mendeteksi anomali, fitur keamanan steering lock atau immobilizer bisa aktif secara otomatis dan mengunci seluruh sistem kendaraan.” imbuhnya.
Selain itu, masalah pada sistem manajemen baterai (BMS) juga dapat memicu kesalahan pembacaan arus listrik atau estimasi kapasitas baterai, yang berujung pada keputusan sistem untuk mematikan kendaraan.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
