
Ilustrasi Mobil listrik BYD M6 dipasarkan di Indonesia dengan harga kompetitif. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
JawaPos.com - Di Tiongkok, tren elektrifikasi kendaraan khususnya mobil listrik yang berkembang sangat pesat ternyata memicu persoalan lainnya. Dengan banyaknya merek baru yang hadir, membuat pasar menjadi sangat kompetitif.
Dengan demikian, perang harga tak bisa terelakkan. Banyak dari merek mobil listrik Tiongkok berlomba merilis produk dengan harga seekonomis mungkin.
Dilansir dari Carscoops, bahkan perang harga kendaraan listrik di Tiongkok tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat, dan taruhannya meningkat dengan cepat.
BYD, produsen kendaraan listrik dan terelektrifikasi terbesar di dunia, tampaknya siap untuk berusaha lebih keras lagi untuk mendominasi pasar.
Laporan baru yang muncul menyebut bahwa perusahaan tersebut menekan pemasok untuk memangkas biaya. Sebuah strategi yang dapat memicu gelombang penurunan harga lainnya di seluruh industri tersebut.
Email yang bocor dari wakil presiden eksekutif BYD He Zhiqi, yang baru-baru ini muncul di media sosial Tiongkok, mengungkap rencana pemangkasan biaya agresif dari perusahaan tersebut.
Email tersebut, yang berjudul “Persyaratan Pengurangan Biaya Kendaraan Penumpang BYD pada tahun 2025,” meminta pemasok untuk memangkas harga sebesar 10 persen pada tahun 2025.
He Zhiqi menyatakan dalam pesan tersebut, “Untuk meningkatkan daya saing mobil penumpang BYD, kami membutuhkan seluruh rantai pasokan untuk bekerja sama dan terus mengurangi biaya.”
Menurut New York Times, BYD mengonfirmasi keabsahan email tersebut, dengan juru bicara perusahaan yang menyatakan bahwa "perundingan tahunan dengan pemasok merupakan praktik umum dalam industri otomotif".
Mereka menambahkan bahwa BYD sering mengajukan "target penurunan harga untuk pemasok". Tetapi menegaskan bahwa hal ini tidak "wajib" dan dapat dinegosiasikan.
Disebutkan bahwa perang harga kendaraan listrik di Tiongkok telah berkecamuk selama dua tahun terakhir, memaksa produsen mobil kecil keluar dari pasar dan mendorong konsolidasi di antara yang lainnya.
Persaingan ini juga telah memacu kolaborasi antara produsen mobil Tiongkok dan Barat, seperti yang terlihat dalam kemitraan Volkswagen baru-baru ini dengan Xpeng.
Meningkatnya persaingan tidak hanya membuat harga tetap rendah bagi konsumen, tetapi juga telah meningkatkan tekanan pada produsen mobil untuk menemukan cara baru untuk memangkas biaya dan tetap bertahan.
Sebagai informasi, merek-merek mobil listrik Tiongkok saat ini juga sangat massif hadir di Indonesia. Bahkan BYD sendiri merupakan merek yang terbilang kompetitif dari sisi produk dan harganya.
Akankah perang harga mobil listrik seperti di Tiongkok akan terjadi juga di Indonesia? Mengingat bahwa merek-merek Tiongkok banyak hadir menawarkan mobil listrik seperti Wuling, Neta, Chery, Maxus, ZEEKR dan banyak lagi.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
