JawaPos.com - Keluhan di jalan raya saat ini terbelah menjadi dua kubu, satu cap arogansi pengemudi SUV tanggung Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero yang sering bikin ulah, satunya lagi pengemudi LCGC yang juga nggak kalah bikin ngelus dada gaya mengemudinya. Pengemudi LCGC atau mobil murah ramah lingkungan dimaksud adalah Toyota Calya dan Daihatsu Sigra.
Keluhan masyarakat pengguna jalan terhadap perilaku mengemudi kendaraan berjenis Calya atau Sigra ini sering jadi gunjingan di media sosial. Sebabnya itu tadi, perilaku mengemudi yang bikin heran. Belok seenaknya, menjadi lane hogger di jalan Tol dan keanehan lainnya yang membahayakan diri dan pengguna jalan lain.
Keluhan ini bukan isapan jempol belaka. Sampai-sampai muncul stigma bahwa pemilik Calya-Sigra adalah orang yang dulunya naik motor, kemudian pindah ke mobil dan kelakuan jeleknya saat mengemudi motor juga ikut pindah saat naik mobil.
Di media sosial sendiri banyak kasus perilaku pengemudi LCGC yang terekam dan memang bikin heran. Ditambah lagi saat ini, banyak armada taksi daring yang memang pakai unit LCGC seperti Calya-Sigra, sering berhenti seenaknya di tengah jalan, berpindah jalur sesuka hati dan banyak lagi.
Terkait dengan fenomena tersebut, Ryan Cayo selaku Ketua Umum CALSIC (Calya Sigra Club) bilang kalau memang keluhan tersebut sering datang kepada komunitas. Apalagi di era media sosial (medsos), kalau ada pengemudi Calya-Sigra yang aneh kelakuannya, akun medsos CALSIC langsung ramai di-tag masyarakat.
Namun terkait perilaku mengemudi yang demikian, Cayo menyebut kalau hal tersebut bukan karena mobilnya, melainkan lebih kepada individu yang memang nggak tertib berlalulintas.
"Ini kami juga lagi fight di masyarakat, netizen, bahwa komunitas hadir itu bisa mengedukasi. Bahwa nggak semuanya ini (karena jenis mobilnya). Balik lagi kepada individunya," jelas Cayo ditemui JawaPos.com di arena GIIAS 2024.
Cayo menekankan juga bahwa di komunitasnya, di CALSIC, pihaknya selalu mengedukasi member atau anggotanya untuk tertib berlalulintas. Tujuannya adalah menghilangkan stigma tersebut, bahwa pengemudi mobil LCGC pun bisa tertib.
Caranya adalah dengan gencar melakukan edukasi. Dibantu Daihatsu, dikatakan juga bahwa CALSIC sering melakukan edukasi kepada membernya berupa training keselamatan berkendara oleh ahlinya.
"Apalagi kami sangat menggawangi banget member kami itu attitude di jalanan. ;ahkan menyebabkan potensi yang membahayakan orang lain, itu kita sering adakan seminar denga safety driving dari daihatsu juga, itu kita undang beberapa bulan sekali," terang Cayo.
Sementara ditanya mengenai cap bahwa pengemudi LCGC yang demikian adalah karena baru pertama punya mobil, Cayo menilai hal tersebut juga tidak sepenuhnya benar. Balik lagi kepada individunya.
"Kalau menurut saya nggak juga, karena nggak semua orang. Karena bisa jadi ini mobil Calya-Sigra second car-nya orang tersebut. Atau seperti saya first car tapi karena edukasi saya dapatkan, ya saya bisa tertib di jalanan. Kita kan bisa belajar bahkan sampai saya punya mobil kedua ketiga itu akan dibawa terus," tegas Cayo.
Mewakili pengguna Calya-Sigra, Cayo ogah dengan cap demikian dari masyarakat. Makanya, dengan dirinya yang tergabung di komunitas, yang saat ini sudah punya ribuan anggota, dirinya berharap, CALSIC dan rekan komunitas lainnya bisa ikut mengedukasi pemilik Calya-Sigra yang perilaku mengemudinya masih demikian.
"Kami sebagai komunitas Calya-Sigra nggak mau digenelarisir seperti itu. Itulah yang kita ajak bahwa masyarskat apalagi yang mobil pertama dan ugal-ugalan ini kadang suka geregetan. Ini kita juga mengimbau bahwa safety driving itu penting. Mau apapun mobilnya, itu kan dibeli dari uang kita sendiri, jangan sampai kita belinya susah malah membahayakan orang lain, malah tambah biaya kalau mobil rusak," tandas Cayo.