
Mobil listrik Tesla dapat menyimpan energi terbarukan untuk jaringan listrik Inggris. (The Conversation)
JawaPos.com — Kendaraan listrik tidak lagi dipandang semata sebagai alat transportasi rendah emisi. Seiring percepatan transisi energi global, mobil listrik kini mulai diposisikan sebagai elemen penting penyangga stabilitas sistem energi terbarukan, terutama ketika produksi listrik dari angin dan matahari semakin sering melampaui kebutuhan.
Fenomena kelebihan pasokan ini telah menjadi tantangan nyata di banyak negara maju. Keterbatasan kapasitas jaringan dan minimnya fasilitas penyimpanan menyebabkan energi bersih terbuang sia-sia.
Inggris menjadi salah satu contoh paling menonjol, ketika ladang angin terpaksa membatasi produksi listrik dalam skala besar karena jaringan tidak mampu menampung lonjakan pasokan.
Dilansir dari The Conversation, Jumat (26/12/2025), pada 2023 ladang angin di Inggris terpaksa memangkas produksi sekitar 4,3 terawatt-jam listrik surplus, atau setara 5 persen dari total output tahunan. Energi sebesar itu sejatinya cukup untuk memasok 1,5 juta rumah selama setahun.
Kegagalan memanfaatkannya membuat pembayar listrik menanggung kerugian sekitar £300 juta, atau setara Rp6,79 triliun (kurs Rp22.640 per pound sterling), akibat biaya pembatasan jaringan dan kompensasi energi.
Dalam konteks inilah teknologi pengisian dua arah atau bidirectional charging mulai mendapat perhatian serius. Teknologi ini memungkinkan mobil listrik tidak hanya menyerap daya dari jaringan, tetapi juga mengembalikan listrik ke rumah, bangunan komersial, hingga jaringan nasional ketika dibutuhkan. Uji coba skala nyata kini berlangsung di Isle of Wight, Inggris, melalui program DriVe2X yang mengintegrasikan kendaraan listrik dengan hotel, dermaga, dan fasilitas publik.
Secara struktural, potensinya sangat besar. Pada 2040, Inggris diperkirakan memiliki sekitar 36 juta mobil dan van listrik dengan total kapasitas baterai mencapai 2,5 terawatt-jam. Jumlah tersebut cukup untuk menyerap kelebihan energi surya pada siang hari atau lonjakan listrik tenaga angin pada malam musim dingin. Mengingat kendaraan listrik rata-rata tidak digunakan hingga sekitar 95 persen dari total waktunya, kapasitas baterainya selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana penyimpanan energi.
Namun, pemanfaatan tersebut menuntut kesiapan regulasi dan teknologi. Pengisian dua arah memerlukan perangkat keras khusus serta standar keamanan jaringan yang jelas. Di Amerika Serikat, National Electrical Manufacturers Association (NEMA) telah menerbitkan standar teknis untuk ekspor daya dari kendaraan listrik.
“Standar EVSE Power Export merupakan alat penting untuk memastikan sistem ini dapat diterapkan secara aman dan konsisten, dan perlu dijadikan rujukan oleh otoritas perizinan,” ujar Patrick Hughes, Senior Vice President of Technical Affairs NEMA.
Dari sisi kebijakan energi, para analis menilai teknologi ini dapat mengurangi ketergantungan pada pembangunan fasilitas penyimpanan skala besar. Fabian Sperka, Manajer Kebijakan Kendaraan di Transport & Environment, menegaskan, “Mobil listrik telah mendorong dekarbonisasi transportasi jalan, tetapi manfaat ekonominya jauh lebih besar. Pengisian dua arah pada dasarnya menyediakan baterai berjalan yang dapat mengurangi kebutuhan penyimpanan energi angin dan surya.”
Bagi konsumen, peluang ekonominya juga nyata. Skema vehicle-to-home (V2H) memungkinkan mobil listrik berfungsi sebagai sumber listrik cadangan bagi rumah tangga. Dalam skema ini, pemilik kendaraan dapat membeli listrik dari jaringan saat tarif rendah, menyimpannya di baterai mobil, lalu menyalurkannya kembali ke rumah untuk digunakan saat harga listrik lebih tinggi atau saat beban jaringan meningkat. Sejumlah kajian internasional menunjukkan pendekatan ini berpotensi memangkas biaya listrik rumah tangga secara signifikan sepanjang umur kendaraan.
Meski demikian, tantangan adopsi masih besar. Infrastruktur pengisian dua arah belum merata, standar global belum sepenuhnya seragam, dan kekhawatiran soal umur baterai, privasi data, serta skema kompensasi masih menjadi penghambat. Tanpa insentif pasar dan kepastian regulasi, teknologi ini sulit berkembang melampaui tahap uji coba.
Kendati demikian, arah kebijakan global menunjukkan optimisme. Pemerintah Inggris memperkirakan kendaraan listrik dapat menyumbang lebih dari 40 gigawatt daya fleksibel pada 2050, setara keluaran puluhan reaktor nuklir. Jika terealisasi, mobil listrik tidak hanya mengubah cara manusia bepergian, tetapi juga menjadi fondasi baru ketahanan energi terbarukan dunia. ***

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
