Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 September 2025 | 23.48 WIB

Pedagang Mobil Bekas Skala Kecil Berdarah-darah, Pemain Besar Tetap Tumbuh

Area show room Focus Motor Group di Bursa Mobil Mangga Dua Square, Jakarta Utara. (Dinarsa Kurniawan/JawaPos.com)

JawaPos.com-Lesunya penjualan mobil baru di Indonesia sepanjang 2025 ternyata menyeret pasar mobil bekas ke jurang yang sama. Bukan hanya pabrikan besar, para pedagang mobil second pun kini harus berjibaku menghadapi turunnya daya beli masyarakat yang kian terasa.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan ritel mobil baru pada Agustus 2025 hanya mencapai 66.478 unit. Meski naik tipis 5,7 persen dibanding Juli, angka tersebut anjlok 13,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari sisi wholesales, penjualan pabrikan ke dealer bahkan terpangkas 19 persen secara tahunan.

Akibat tren pelemahan itu, Gaikindo disebut tengah menimbang untuk memangkas target penjualan mobil 2025 yang semula 900 ribu unit.

Namun jika pasar mobil baru saja 'menangis', kondisi pasar mobil bekas tak kalah memprihatinkan. Pedagang mobil second di Karawaci, Tangerang, Gerry Akio, mengaku penjualannya nyaris tak bergerak. 

Bahkan, dalam dua tahun terakhir ia sering menjual dengan margin tipis atau bahkan rugi. “Pokoknya sejak ganti Presiden, ganti kebijakan, makin terasa. Sekarang asal duit muter aja udah,” kata Gerry.

Yang dimaksud 'duit muter' adalah strategi agar stok mobil tidak lama berhenti di garasi. Alih-alih menahan harga tinggi, pedagang lebih memilih melepas mobil meski hanya balik modal atau sekadar menutup biaya operasional.

Mobil yang ditawarkan pun lebih banyak di segmen murah. “Ya stok kita yang cepat laku aja. Mobil-mobil under Rp 200 atau Rp 100 juta. Kalau yang mahal-mahal nggak berani kita, nggak kemakan pasar,” tambahnya.

Pedagang lain, Erwin, mengaku situasi serupa dirasakan banyak koleganya. Lemahnya daya beli membuat masyarakat lebih memilih menahan uang untuk kebutuhan pokok ketimbang membeli mobil, baik baru maupun bekas.

“Ya memang lagi susah. Duitnya nggak ada, masyarakat lebih pilih nahan duitnya atau untuk kebutuhan lain,” ujarnya.

Menurutnya, meski suku bunga sudah diturunkan, kebijakan itu tidak cukup untuk mendongkrak permintaan. PHK massal, naiknya angka pengangguran, hingga ketidakpastian kebijakan dan ekonomi membuat pasar semakin hati-hati.

“Temen kita beberapa sudah ada yang tutup. Nggak kuat udah, kita tutup dah,” ungkapnya mencontohkan obrolan dengan sesama pedagang mobil bekas.

Upaya promosi juga sudah dilakukan. .ulai dari bundling aksesori gratis hingga layanan salon mobil, juga tak banyak membantu.

“Coating dan poles kita gratis, kaca film baru, sampai kadang ada yang minta bonus talang air kita kasih, tetap aja sepi,” keluhnya.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore