JawaPos.com - Sejauh ini, salah satu hambatan dalam penetrasi kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) masih berkutat pada sektor baterainya. Yang membuat masyarakat masih berpikir untuk memiliki EV, mobil khususnya adalah praktik pengisian ulang daya baterainya.
Selain masih belum meratanya infrastruktur pengisian daya baterai EV, di Indonesia terlebih, baterai juga masih menjadi komponen dari EV yang paling mahal harganya. Selain itu, isu terkait baterai EV yang tidak bisa sembarangan perawatannya juga masih menjadi kendala.
Terkait dengan baterai EV, dilansir dari Carscoops, sebuah studi baru menunjukkan bahwa panas yang berlebihan dapat sangat mengurangi jangkauan kendaraan listrik. Temuan ini mirip dengan penelitian lain yang menunjukkan bagaimana dingin yang berlebihan juga mengurangi baterai dan jangkauan secara signifikan.
Studi ini dilakukan oleh Recurrent, dan dilakukan di Seattle, Amerika Serikat (AS) dan menguji ribuan kendaraan setiap tahun untuk menganalisis hubungan antara baterai dan jangkauannya. Data terbarunya menunjukkan bahwa ketika keadaan menjadi sangat panas, EV dapat kehilangan hampir sepertiga dari jangkauan yang dinyatakan.
Meskipun Recurrent tidak menyebutkan nama atau merek mobil secara spesifik, dikatakan bahwa beberapa kendaraan mengalami penurunan dalam kisaran 31 persen. Penurunan tersebut terjadi ketika suhu naik di atas 100 derajat Fahrenheit (38 derajat Celcius).
Recurrent diketahui adalah perusahaan yang sama yang tahun lalu menemukan bahwa suhu dingin juga memiliki efek yang hampir sama. Baik Ford Mustang Mach-E dan Volkswagen ID.4 melihat penurunan di kisaran 30 persen saat suhu turun di bawah 30 derajat Fahrenheit (-1 derajat Celcius).
Pada saat yang sama, perlu dicatat bahwa suhu yang tidak terlalu ekstrem menunjukkan pengaruh yang sangat kecil pada rentang baterai. Recurrent juga menunjukkan bahwa datanya tentang penipisan rentang tiga digit sangat terbatas untuk saat ini.
"Perhatikan bahwa hilangnya rentang pada 100 derajat didasarkan pada data yang sangat terbatas, dan kami akan memperbaruinya ketika kami lebih yakin dengan nilainya," katanya dalam penelitian tersebut.
CEO Scott Case menjelaskan kepada Automotive News bahwa mengumpulkan data seperti itu sulit karena sebagian besar mengemudi dilakukan pada pagi hari, dimana suhu sekitar belum mencapai tiga digit atau belum terlalu panas.
Menurut Greg Less dari Laboratorium Baterai Universitas Michigan, penurunan jangkauan pada suhu tinggi itu disebabkan oleh kimiawi. "Begitu Anda berada di atas (104 derajat Fahrenheit) Anda mulai mengalami kerusakan lapisan emisi pasif pada anoda, dan kerusakan itu kemudian akan menyebabkan konsumsi cairan elektrolit, yang akan mempersingkat masa pakai baterai Anda," katanya.
Menarik untuk menunggu dan melihat apakah Recurrent akan merilis data tentang model mana yang paling berpengaruh dalam suhu tinggi. Kendati demikian, dari studi tersebut setidaknya kita dapat mengambil pelajaran bahwa mengendarai kendaraan listrik dalam kondisi cuaca ekstrem perlu dilakukan untuk memperpanjang usia pakai baterai.