
Investigator Senior KNKT Ahmad Wildan saat memberikan paparan terkait keselamatan berkendara yang digelar oleh Forum Wartawan Otomotif (Forwot) bersama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR).
JawaPos.com - Kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) masih merupakan barang baru, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia secara umum. Seiring dengan adopsinya yang mulai meluas, kekhawatiran akan bahaya yang mungkin muncul dari mobil listrik ini juga berbanding lurus dengan jumlahnya yang semakin banyak mengaspal di jalanan.
Salah satu kekhawatiran dari mulai masifnya EV adalah penanganan saat jenis kendaraan bertenaga baterai itu terbakar. Khususnya mobil, belakangan, mulai banyak muncul kasus-kasus mobil listrik terbakar dan ternyata sulit dipadamkan. Banyak kasus mobil listrik terbakar sangat sulit dipadamkan. Api baru akan mati ketika sel baterai atau daya di dalam baterainya baru benar-benar habis. Sampai mobil hangus terbakar pun, kalau kandungan kimia di dalam baterainya belum habis, api akan sulit dipadamkan.
Dilansir dari NotebookCheck, hal ini dikarenakan Kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) menggunakan baterai Lithium-ion yang memiliki efisiensi energi tinggi, rasio power-to-weight yang tinggi, dan self-discharge rendah. Baterai ini bekerja dengan baik di bawah suhu tinggi dan terbuat dari komponen yang dapat didaur ulang. Namun, salah satu kelemahan utama baterai Lithium-ion adalah risiko kebakaran yang tinggi juga.
Menurut studi pada 2017 yang dilakukan oleh National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) dari departemen transportasi Amerika Serikat, risiko kebakaran pada kendaraan listrik jauh lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan bertenaga mesin pembakaran internal. Namun, meningkatnya jumlah kecelakaan kebakaran di EV telah menyebabkan penyelidikan lebih lanjut tentang keselamatan kendaraan listrik.
Sebuah makalah penelitian tahun 2020 tentang 'A Review of Battery Fires in Electric Vehicles' menyatakan bahwa meskipun pelepasan panas dan bahaya kebakaran EV sebanding dengan kebakaran kendaraan berbahan bakar fosil, begitu baterai onboard terlibat dalam kebakaran, ada kesulitan yang lebih besar dalam menekan kebakaran EV. Ini karena paket baterai yang terbakar di dalamnya tidak dapat diakses oleh penekan eksternal dan dapat menyala kembali tanpa pendinginan yang memadai. Akibatnya, zat penekan dalam jumlah berlebihan diperlukan untuk mendinginkan baterai, memadamkan api, dan mencegah penyalaan kembali.
Mempersiapkan Alat Pemadam Api Ringan atau APAR juga dikatakan terlalu membantu mencegah risiko kebakaran yang terjadi pada kendaraan listrik. Fakta ini disampaikan oleh Investigator Senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan di arena GIIAS 2023.
Melalui diskusi yang digelar oleh Forum Wartawan Otomotif (Forwot) bersama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk yang diketahui merupakan salah satu pemain EV di Tanah Air, Ahmad menerangkan bahwa APAR yang disiapkan di kendaraan listrik atau kendaraan pada umumnya tidak akan banyak membantu lantaran masyarakat kebanyakan tidak mengetahui bahwa kebakaran terdiri atas beberapa tipe. Kemudian, penanganannya juga berbeda-beda.
"Apakah dengan membawa APAR jadi aman? Belum tentu. Jenis-jenis atau tipe kebakaran itu berbeda-beda," terang Ahmad.
Dirinya menerangkan, pertama, jenis kebakaran dibedakan menjadi Golongan A, yaitu kebakaran bahan padat kecuali logam. Contohnya adalah kertas, plastik karet, kain, kayu, stereoform dan sebagainya. Penggunaan tepung kimia kering, goni basah, tanah lumpur, pasir menjadi sarana efektif untuk menanganani jenis kebakaran golongan ini.
Selanjutnya ada Golongan B, yaitu kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar. Contohnya adalah BBM, gas LPG, spirtus, alcohol kadar tinggi dan sebagainya. Pemadaman menggunakan media air “diharamkan” dalam klasifikasi golongan ini, karena dapat menyebabkan api justru akan melebar dan membesar.
Lain lagi Golongan C, kebakaran instalasi listrik bertegangan. Contohnya adalah instalasi listrik rumah tanggan, sambungan kabel (soket), perangkat elektronik yang menggunakan listrik, mesin-mesin dan sebagainya. Penggunaan air juga tidak dianjurkan dalam penanganan kebakaran golongan ini karena akan memicu bahaya lain, penggunaan dry chemical, APAR, atau karbondioksida (CO2) jika terjadi kebakaran dalam ruangan.
Terakhir Golongan D, kebakaran logam. Contohnya adalah alumunium, magnesium dan sebagainya. Umumnya jenis kebakaran ini berpotensi terjadi di ranah industri, manufaktur atau laboratorium dan jarang terjadi di ranah rumah tangga. Penggunaan dry chemical, pasir halus dan kering disarankan untuk penanganan kebakaran jenis ini.
"Karena jenisnya berbeda-beda tadi, ditambah material baterai mobil listrik yang memang masih sulit dipadamkan, risiko kebakaran EV masih sulit ditekan. Makanya KNKT bersama regulator juga terus mendorong untuk dibuat aturan terkait APAR yang cocok untuk EV," kata Ahmad menambahkan.
Dalam kesempatan yang sama, CCO PT VKTR, Ludiatmo, menyebut, sebagai salah satu produsen EV, dirinya juga mendorong Bain produsen, regulator dan para ahli di bidang EV untuk duduk sama-sama dan mencari jawaban akan masalah risiko kebakaran EV ini. Meski demikian, dirinya memastikan bahwa setiap produk EV yang dihadirkan VKTR telah dipastikan aman dan sangat laik jalan.
"Kalau sepeda motor, bahaya, hanya satu yang bisa celaka. Kami (VKTR) bikin bus listrik, yang naik ratusan, kalau tidak hati-hati, tidak teliti meriset dan membuat produk, kalau kenapa-kenapa, amit-amit kebakaran, korbannya bisa ratusan. Makanya kami pastikan betul produk kami aman," kata Ludiatmo.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
