Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 September 2026 | 02.50 WIB

OpenAI Klaim Pecahkan Teka-teki Matematika 90 Tahun dalam 88 Jam

CEO OpenAI Sam Altman (BBC) - Image

CEO OpenAI Sam Altman (BBC)

JawaPos.com - OpenAI mengklaim berhasil menemukan solusi untuk salah satu persoalan matematika paling sulit di dunia hanya dalam 88 jam. Terobosan itu dikerjakan sekitar 10.000 agen kecerdasan buatan (AI) yang bekerja secara paralel menggunakan model internal terbaru perusahaan. Jika kelak terverifikasi, capaian ini dapat menjadi penanda penting perubahan peran AI, dari sekadar alat bantu menjadi sistem yang mampu melakukan riset matematika tingkat lanjut.

Persoalan yang ditangani merupakan Navier-Stokes existence and smoothness problem, bagian dari persamaan Navier-Stokes yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana fluida bergerak. Selama puluhan tahun, aspek penting persoalan tersebut belum memiliki pembuktian matematis. Masalah itu juga berkaitan dengan turbulensi, fenomena aliran yang hingga kini masih belum sepenuhnya dipahami. Karena tingkat kesulitannya, persoalan tersebut menjadi salah satu tantangan dalam daftar Millennium Prize Problems.

Dilansir dari BBC, Rabu (9/9/2026), OpenAI mengatakan mulai mengerahkan ribuan agen AI setelah mendengar rumor pada 1 September bahwa dua persoalan Millennium Prize telah diselesaikan. Sekitar 10.000 agen kemudian bekerja pada sejumlah persoalan matematika tingkat lanjut. Pada 5 September, sekitar 88 jam setelah tugas dimulai, OpenAI mengatakan telah memperoleh solusi untuk persoalan Navier-Stokes.

Kecepatan tersebut dicapai melalui skala komputasi yang sangat besar. OpenAI mengatakan para agen bertukar hampir tiga juta pesan dan menggunakan sekitar 130 miliar output tokens, yakni unit teks atau kode yang dihasilkan model AI, khusus untuk persoalan Navier-Stokes. Berdasarkan harga keluaran model tercanggih OpenAI sendiri, pengerjaan tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar USD 10 juta, setara Rp175,9 miliar dengan kurs Rp17.590 per dolar AS.

Meski demikian, klaim tersebut belum berarti persoalan itu resmi terpecahkan. OpenAI mengatakan solusi yang dihasilkan baru menyelesaikan dua dari empat pernyataan yang disyaratkan dalam pembuktian Millennium Prize. Solusi tersebut juga belum diverifikasi secara independen dan belum diterima secara publik oleh Clay Mathematics Institute di Amerika Serikat, lembaga yang mengelola penghargaan senilai USD 1 juta bagi penyelesaian persoalan matematika tersebut.

OpenAI menyebut pencapaian itu sebagai sebuah tonggak, tetapi tidak mengklaim hadiah tersebut. "Tujuan kami merilis hasil ini adalah melaporkan kemajuan substansial model AI kami," kata OpenAI.

Perusahaan menambahkan, "Kami tidak bermaksud mengklaim Millennium Prize untuk hasil ini." Model yang digunakan masih bersifat internal karena menurut OpenAI kemampuannya "secara signifikan lebih tinggi" dibandingkan model terbaru yang telah dirilis perusahaan.

Namun, klaim tersebut segera memunculkan kontroversi mengenai prioritas penelitian. Tristan Buckmaster, profesor matematika di New York University, mengatakan dirinya bersama Levent Alpöge, matematikawan yang bekerja di Anthropic, juga tengah mengembangkan solusi untuk persoalan tersebut.

Keduanya menggunakan Codex, perangkat AI milik OpenAI, dalam penelitian mereka. Buckmaster mengatakan pada 3 September dirinya mengetahui bahwa "informasi tentang kemajuan kami telah diteruskan kepada OpenAI."

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore