Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 Juni 2026 | 06.11 WIB

BYD Pasang Target Jadi Produsen Mobil Terbesar Dunia dalam Lima Tahun, Perkuat Serangan ke Pasar Eropa

BYD menargetkan penjualan 1,5 juta kendaraan di pasar internasional pada tahun ini (The Guardian) - Image

BYD menargetkan penjualan 1,5 juta kendaraan di pasar internasional pada tahun ini (The Guardian)

JawaPos.com - Produsen kendaraan listrik asal Tiongkok, BYD, menetapkan target ambisius untuk menjadi produsen mobil terbesar di dunia dalam lima tahun mendatang. Di balik target itu, perusahaan tengah mempercepat ekspansi internasional guna mengejar dominasi Toyota melalui pengembangan teknologi dan investasi di pasar Eropa.

Ambisi tersebut disampaikan langsung oleh pendiri sekaligus Ketua BYD, Wang Chuanfu, di tengah pertumbuhan pesat bisnis internasional perusahaan. Strategi yang ditempuh tidak hanya berfokus pada kendaraan listrik, tetapi juga pada pengembangan teknologi baterai dan infrastruktur pendukung yang dinilai menjadi kunci persaingan industri otomotif masa depan.

Dilansir dari The Guardian, Kamis (11/6/2026), Wang optimistis BYD mampu melampaui para pesaing global dalam beberapa tahun ke depan. "BYD benar-benar akan menjadi produsen mobil nomor satu di dunia dari sisi skala dalam lima tahun," ujarnya dalam rapat tahunan pemegang saham di Shenzhen. Pernyataan itu mempertegas bahwa perusahaan tidak lagi sekadar membidik kepemimpinan di pasar kendaraan listrik, tetapi juga industri otomotif secara keseluruhan.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, BYD mengumumkan rencana investasi hampir 1,8 miliar pound sterling atau sekitar Rp43,2 triliun (dengan kurs Rp24.000 per pound sterling) untuk membangun jaringan pengisian daya sangat cepat di Eropa. Jaringan pengisian daya sangat cepat itu dirancang agar kendaraan dapat diisi dalam waktu sekitar lima menit, sebuah teknologi yang diproyeksikan memperkuat posisi kompetitif BYD di pasar global.

Seiring dengan strategi tersebut, ekspansi global BYD juga ditopang oleh pertumbuhan penjualan yang signifikan. Tahun lalu, perusahaan melampaui Tesla sebagai penjual kendaraan listrik terbesar di dunia berdasarkan volume penjualan. Pada Mei 2026, penjualan di pasar luar negeri mencapai lebih dari 160 ribu unit atau meningkat 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tahun ini, BYD menargetkan penjualan internasional sebanyak 1,5 juta unit, naik lebih dari 40 persen dari realisasi 1,05 juta unit pada tahun lalu.

Meski demikian, jalan menuju posisi puncak masih panjang. Pada 2025, Toyota mempertahankan status sebagai produsen mobil terlaris di dunia dengan penjualan sekitar 11,3 juta unit, sedangkan BYD mencatatkan 4,8 juta unit. Data Reuters juga menunjukkan perusahaan asal Tiongkok itu masih perlu meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jangkauan pasar untuk mengejar para pemimpin industri otomotif global.

Dalam upaya mempersempit kesenjangan tersebut, ekspansi ke pasar luar negeri, khususnya Eropa, menjadi salah satu fokus utama BYD. Wakil Presiden Eksekutif BYD, Stella Li, mengatakan fasilitas produksi baru perusahaan di Hungaria akan mulai merakit kendaraan pada kuartal keempat tahun ini. 

"Hungaria adalah prioritas nomor satu saat ini. Prioritas kedua adalah mencari fasilitas produksi kedua di Eropa," ujarnya kepada Reuters. Dia juga mengungkapkan bahwa proyek pembangunan pabrik di Turki untuk sementara ditunda agar perusahaan dapat memusatkan perhatian pada pengembangan bisnis di Uni Eropa.

Namun, ekspansi tersebut juga menghadapi tantangan. Pabrik BYD di Szeged, Hungaria, menjadi sorotan setelah muncul dugaan pelanggaran aturan ketenagakerjaan Uni Eropa serta persoalan lingkungan terkait pembuangan tanah galian ke lahan pertanian di sekitar lokasi proyek. Otoritas setempat telah menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan yang terlibat, meski hasil penyelidikan belum dipublikasikan secara lengkap.

Pada saat yang sama, tekanan geopolitik terhadap BYD turut meningkat. Pentagon memasukkan perusahaan itu ke dalam daftar perusahaan Tiongkok yang dinilai memiliki kaitan dengan kepentingan militer dan berpotensi menimbulkan risiko bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Menanggapi langkah tersebut, pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa keputusan itu "tidak memiliki dasar fakta."

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore