
ILUSTRASI. AI Computing. (TierPoint)
JawaPos.com - Lonjakan penggunaan sensor di sektor industri dan kesehatan mendorong tantangan baru dalam perancangan komputer tertanam (embedded computing). Di tengah transformasi digital dan otomatisasi berbasis kecerdasan buatan (AI), kebutuhan akan sistem yang lebih fleksibel, efisien, dan hemat daya kini menjadi prioritas.
Menurut Steven Fong, Corporate Vice President, APJ Embedded Business, kompleksitas sistem industri meningkat seiring bertambahnya kanal sensor dan permintaan data real-time. "Integrasi AI, machine learning, dan analitik data kini menjadi kebutuhan utama, namun membuat desain sistem embedded jauh lebih menantang," ujar dia melalui keterangannya, Selasa (21/10).
Tren digitalisasi edge computing yang melibatkan ribuan sensor dan sistem otomasi menciptakan beban data besar yang harus diproses dalam waktu milidetik. Hal ini terlihat jelas pada sistem pencitraan medis, di mana data dari berbagai probe harus diproses dan divisualisasikan secara instan agar berguna bagi tenaga medis.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pengembang mulai mengadopsi platform komputasi adaptif yang menggabungkan prosesor x86, AI engine, dan antarmuka sensor dalam satu sistem terintegrasi. Pendekatan ini diyakini bisa mengurangi latensi dan konsumsi daya sekaligus menyederhanakan integrasi hardware-software pada aplikasi industri dan medis.
Selama ini, PC industri bertindak sebagai gatekeeper untuk data sensor, sementara akselerator berbasis FPGA diakses secara terpisah melalui PCIe. Namun, sistem seperti ini rentan mengalami penundaan data.
Dengan pendekatan adaptif, semua fungsi, mulai dari kontrol mesin, pemrosesan sensor, hingga jaringan, bisa dijalankan langsung di satu motherboard, menghasilkan respons real-time yang lebih cepat dan akurat. Model komputasi terintegrasi ini mulai banyak diterapkan pada sektor robotika, kota pintar, hingga analitik ritel, yang semuanya membutuhkan inferensi AI dan pemrosesan visual instan.
Efisiensi energi juga menjadi faktor penting, memungkinkan perangkat seperti robot otonom di pabrik beroperasi lebih lama tanpa peningkatan bobot atau biaya baterai. Selain kinerja, fleksibilitas pengembangan menjadi nilai tambah. Para insinyur kini dapat menyesuaikan jumlah dan jenis sensor, serta memilih mesin pemrosesan paling sesuai, baik CPU, DSP, atau AI engine untuk mencapai keseimbangan antara performa dan daya.
"Dengan semakin terintegrasinya sensor, AI, dan edge computing, industri tengah memasuki babak baru dalam efisiensi dan produktivitas. Di era otomatisasi cerdas ini, sensor bukan sekadar alat pengumpul data, tetapi fondasi utama yang menentukan arah evolusi komputasi industri modern," tandas Steven.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
