
Komisioner Komisi Kejaksaan Barita Simanjuntak. (Dok. Pribadi)
PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) memastikan akan menunjuk jaksa agung dari tokoh nonparpol. Tentu saja kepastian itu disambut positif untuk perbaikan penegakan hukum selama lima tahun mendatang. Namun, sosok semacam apa yang cocok untuk menjadi jaksa agung? Berikut obrolan wartawan Jawa Pos Ilham Wancoko dengan Komisioner Komisi Kejaksaan Barita Simanjuntak kemarin (18/8).
---
Presiden Jokowi menaruh perhatian khusus terhadap jaksa agung mendatang. Sosok yang cocok menjadi jaksa agung seperti apa?
Yang memahami kinerja jaksa secara profesional dan proporsional. Jaksa agung pejabat yang berwenang dalam penuntutan. Mewakili kekuasaan negara. Maka, tidak boleh main-main. Jangan pilih yang kurang pengalaman. Itu tugas teknis operasional penegakan hukum. Pelaksana kekuasaan negara bidang penuntutan. Semua sudah diatur dalam konstitusi dan Undang-Undang (UU) Kejaksaan.
Apakah jaksa agung nonparpol baik untuk penegakan hukum?
Silakan bukan dari partai politik (parpol), tapi bisa jaksa karir yang namanya disodorkan oleh partai. Bukan berarti orang partai. Bisa saja jaksa itu diketahui kinerjanya dari sentuhan di DPR, seperti rapat dan sebagainya. Disodorkan partai bukan berarti orang partai.
Memperbaiki kejaksaan saat ini butuh sosok seperti apa?
Apakah perlu tokoh internal atau dari luar kejaksaan?
Bergantung apa yang hendak diinginkan presiden. Apakah ingin memperbaiki teknis, maka butuh figur kuat dalam penuntutan atau penindakan kasus korupsi. Apakah butuh perbaikan sumber daya manusia (SDM), maka butuh sosok yang kuat dalam pendidikan dan latihan (diklat) jaksa.
Perlu perbaikan apa sebenarnya?
Terdapat kinerja positif saat ini dalam melaksanakan percepatan proyek vital nasional. Kejaksaan berhasil mengawasi itu. Secara objektif, itu kinerja yang perlu diberi nilai positif. Peran kejaksaan yang sudah berjalan empat tahun ini harus berkesinambungan. Semakin mempercepat target yang hendak dicapai kejaksaan selama periode 2019–2024.
Hal lain yang diperlukan?
Bidang penindakan harus jalan, dalam pengertian terdapat sinergi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebab, semua negara pasti punya kejaksaan. Belum tentu di setiap negara ada KPK. Kalau bekerja sama, bisa makin baik. Selanjutnya, pembenahan dan pembinaan ke dalam, reformasi birokrasi di internal kejaksaan. Itu penting. SDM kejaksaan baik, tapi kalau tidak dikelola dengan lebih baik, sayang. Ini yang menjadi permasalahan bersama yang harus diselesaikan jaksa agung mendatang.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022