Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 November 2020 | 21.47 WIB

Jalan Terjal Menuju Rebound

SHINTA WIDJAJA KAMDANI - Image

SHINTA WIDJAJA KAMDANI

SECARA umum, hampir sebagian besar negara diprediksi akan mampu memulihkan ekonomi pada 2021. Tidak terkecuali Indonesia. IMF memproyeksikan Indonesia mengalami pertumbuhan PDB sampai 6,1 persen tahun depan.

Namun, jalan untuk mewujudkan prediksi-prediksi tersebut tidak mudah.

Justru, dengan kondisi saat ini, jalan Indonesia menuju rebound kian terjal.

Keyakinan dunia usaha untuk melakukan ekspansi-ekspansi bisnis belum pulih seutuhnya di era kenormalan baru. Penurunan dana stimulus pemerintah tahun 2021 untuk sektor usaha turut memperkecil konfidensi pengusaha. Apalagi, pemotongan dana itu mencapai hampir sekitar 50 persen dari dana serupa sepanjang 2020. Misalnya pada komponen stimulus UMKM, pembiayaan korporasi, serta insentif usaha. Hal tersebut jelas membuat kami khawatir akan memengaruhi perekonomian 2021.

Kami juga melihat situasi dan dampak pandemi mengakibatkan ketidakpastian pemulihan arus investasi dan permintaan pasar. Tekanan juga bertambah jika pengendalian pandemi di dalam negeri masih berjalan lamban sehingga memengaruhi tingkat konsumsi.

Secara keseluruhan, peran stimulus yang dilancarkan pemerintah belum berjalan maksimal untuk menstimulasi kinerja pelaku usaha. Relaksasi kredit perbankan berupa POJK 11 dan 14 pada 2020 sudah berjalan baik. Namun, upayanya perlu terus ditingkatkan untuk membantu likuiditas atau keuangan perusahaan. Dengan begitu, stimulus kredit bisa menyokong sektor riil nasional untuk mempertahankan kinerja.

Kenyataannya, stimulus kredit memang lebih hanya menjadi pengurang beban daripada sebagai stimulan untuk meningkatkan kinerja sektor riil. Sebab, secara esensi, biaya pinjaman pelaku usaha tidak berkurang secara drastis. Hampir tidak ada korelasi antara stimulus dan penurunan suku bunga acuan BI terhadap rata-rata suku bunga dasar kredit atau SBDK pada sepuluh bank pemberi kredit terbesar di dalam negeri.

Ini harus jadi perhatian. Dengan suku bunga yang sedemikian besar, tidak akan menarik bagi pelaku usaha riil untuk meminjam. Belum lagi, sektor perbankan juga sangat berhati-hati menyalurkan kreditnya.

Efektivitas stimulus juga belum terasa maksimal bagi sebagian besar pengusaha di dalam negeri. Bank Dunia mencatat, hanya sekitar 7 persen dari 850 perusahaan di Indonesia yang mengaku mendapat insentif pemerintah. Sisanya, sekitar 93 persen, belum bisa memanfaatkan program stimulus ekonomi pemerintah. Bahkan, sekitar 53 persennya tidak tahu terdapat insentif pemerintah.

Mengenai vaksin, keberadaan vaksin nanti tidak akan serta-merta meningkatkan kepercayaan diri konsumsi pasar domestik dan internasional secara simultan. Ditambah belum ada kepastian mengenai efektivitas dan pipeline distribusi vaksin nantinya. Pemerintah perlu mendorong juga perilaku disiplin protokol kesehatan pada masyarakat supaya persebaran virus tetap terkendali. Masyarakat perlu menyadari kemungkinan kita masih hidup berdampingan dengan Covid-19 dalam jangka waktu yang panjang.

Baca juga:






*) SHINTA WIDJAJA KAMDANI, Wakil ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)

**) Disarikan dari wawancara dengan Agfi Sagittian

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://youtu.be/iV6df-QGdeA

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore