
SHINTA WIDJAJA KAMDANI
SECARA umum, hampir sebagian besar negara diprediksi akan mampu memulihkan ekonomi pada 2021. Tidak terkecuali Indonesia. IMF memproyeksikan Indonesia mengalami pertumbuhan PDB sampai 6,1 persen tahun depan.
Namun, jalan untuk mewujudkan prediksi-prediksi tersebut tidak mudah.
Justru, dengan kondisi saat ini, jalan Indonesia menuju rebound kian terjal.
Keyakinan dunia usaha untuk melakukan ekspansi-ekspansi bisnis belum pulih seutuhnya di era kenormalan baru. Penurunan dana stimulus pemerintah tahun 2021 untuk sektor usaha turut memperkecil konfidensi pengusaha. Apalagi, pemotongan dana itu mencapai hampir sekitar 50 persen dari dana serupa sepanjang 2020. Misalnya pada komponen stimulus UMKM, pembiayaan korporasi, serta insentif usaha. Hal tersebut jelas membuat kami khawatir akan memengaruhi perekonomian 2021.
Kami juga melihat situasi dan dampak pandemi mengakibatkan ketidakpastian pemulihan arus investasi dan permintaan pasar. Tekanan juga bertambah jika pengendalian pandemi di dalam negeri masih berjalan lamban sehingga memengaruhi tingkat konsumsi.
Secara keseluruhan, peran stimulus yang dilancarkan pemerintah belum berjalan maksimal untuk menstimulasi kinerja pelaku usaha. Relaksasi kredit perbankan berupa POJK 11 dan 14 pada 2020 sudah berjalan baik. Namun, upayanya perlu terus ditingkatkan untuk membantu likuiditas atau keuangan perusahaan. Dengan begitu, stimulus kredit bisa menyokong sektor riil nasional untuk mempertahankan kinerja.
Kenyataannya, stimulus kredit memang lebih hanya menjadi pengurang beban daripada sebagai stimulan untuk meningkatkan kinerja sektor riil. Sebab, secara esensi, biaya pinjaman pelaku usaha tidak berkurang secara drastis. Hampir tidak ada korelasi antara stimulus dan penurunan suku bunga acuan BI terhadap rata-rata suku bunga dasar kredit atau SBDK pada sepuluh bank pemberi kredit terbesar di dalam negeri.
Ini harus jadi perhatian. Dengan suku bunga yang sedemikian besar, tidak akan menarik bagi pelaku usaha riil untuk meminjam. Belum lagi, sektor perbankan juga sangat berhati-hati menyalurkan kreditnya.
Efektivitas stimulus juga belum terasa maksimal bagi sebagian besar pengusaha di dalam negeri. Bank Dunia mencatat, hanya sekitar 7 persen dari 850 perusahaan di Indonesia yang mengaku mendapat insentif pemerintah. Sisanya, sekitar 93 persen, belum bisa memanfaatkan program stimulus ekonomi pemerintah. Bahkan, sekitar 53 persennya tidak tahu terdapat insentif pemerintah.
Mengenai vaksin, keberadaan vaksin nanti tidak akan serta-merta meningkatkan kepercayaan diri konsumsi pasar domestik dan internasional secara simultan. Ditambah belum ada kepastian mengenai efektivitas dan pipeline distribusi vaksin nantinya. Pemerintah perlu mendorong juga perilaku disiplin protokol kesehatan pada masyarakat supaya persebaran virus tetap terkendali. Masyarakat perlu menyadari kemungkinan kita masih hidup berdampingan dengan Covid-19 dalam jangka waktu yang panjang.
Baca juga:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022