alexametrics

4,00 Persen Adalah Suku Bunga Acuan Terendah

17 Juli 2020, 14:44:16 WIB

JawaPos.com – Untuk kali keempat sepanjang tahun ini, Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan 7-day repo rate. Keputusan itu mempertimbangkan perkiraan inflasi yang rendah, stabilitas eksternal, serta langkah lanjutan untuk mempercepat pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19.

Kemarin (16/7) BI menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,00 persen. Angka tersebut terendah dalam empat tahun.

Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kuartal II bisa terkontraksi hingga -4 persen. ”Dari hasil asesmen kami, memang penurunan kegiatan ekonomi, khususnya pada April dan Mei, sejalan dengan dampak pembatasan sosial berskala besar (PSBB),” kata Perry dalam konferensi pers virtual hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI kemarin.

Memasuki Juni, geliat perekonomian mulai membaik seiring pelonggaran PSBB. Namun, itu belum kembali pada level sebelum pandemi Covid-19. Hal tersebut tecermin dari nilai indeks keyakinan konsumen (IKK) Juni sebesar 83,8. Lebih baik jika dibandingkan dengan Mei sebesar 77,8.

Perry menuturkan, keputusan RDG BI kembali menurunkan suku bunga acuan untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional. Berdasar data BI, penurunan tersebut sudah kali keempat sepanjang 2020. Sebelumnya, penurunan suku bunga acuan terjadi pada Februari, yakni 4,75 persen, dari sebelumnya 5 persen pada Januari. Lalu, Maret turun menjadi 4,5 persen dan dipertahankan hingga April dan Mei. Pada Juni, suku bunga acuan turun menjadi 4,25 persen.

Selain itu, suku bunga tersebut merupakan yang terendah sepanjang masa pemberlakuan BI 7-day repo rate sejak April 2016. Saat itu 5,5 persen. BI pernah menetapkan suku bunga acuan 4,25 persen pada periode 22 September 2017 hingga 19 April 2018. Setelah itu, terus meningkat hingga menyentuh 6 persen pada 15 November 2018 hingga 20 Juni 2019. Dan, selama 24 Oktober 2019 sampai 23 Januari 2020 bertahan di 5 persen.

Perry mengatakan, pihaknya telah menyuntikkan likuiditas (quantitative easing) di perbankan sebanyak Rp 633,24 triliun. Perinciannya, penurunan giro wajib minimum (GWM) sekitar Rp 155 triliun dan ekspansi moneter sekitar Rp 462,4 triliun.

Menurut dia, likuiditas yang memadai serta penurunan suku bunga acuan BI berkontribusi menurunkan suku bunga perbankan. ”Sejalan dengan penurunan suku bunga pasar uang antarbank (PUAB), rerata tertimbang suku bunga deposito dan kredit modal kerja pada Juni 2020 menurun menjadi 5,74 persen dan 9,48 persen dari 5,85 persen dan 9,60 persen pada bulan sebelumnya,” papar pria asal Sukoharjo, Jawa Tengah, tersebut.

Sementara itu, untuk mencukupi pembiayaan penanganan pandemi Covid-19, pemerintah melebarkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Dari semula 1,76 persen produk domestik bruto (PDB) menjadi 5,07 persen (Perpres No 54 Tahun 2020) dan 6,34 persen (Perpres No 72 Tahun 2020). Kondisi tersebut mengharuskan pemerintah dan BI berbagi beban (burden sharing) untuk menambal defisit. Situasi tersebut membuat beberapa ekonom khawatir akan meningkatnya inflasi. ”Insya Allah tidak untuk tahun ini. Kenapa? Karena inflasi kami perkirakan masih tetap rendah,” tegas Perry.

Di sisi lain, ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, penurunan suku bunga acuan BI mempertimbangkan stabilitas perekonomian yang terjaga. Itu terindikasi dari stabilnya nilai tukar rupiah, ekspektasi rendahnya defisit transaksi berjalan, serta rendahnya inflasi sisi permintaan. ”Pelonggaran kebijakan moneter tersebut diperkirakan akan mendorong stimulus bagi demand side perekonomian, yakni konsumsi rumah tangga dan investasi,” terang Josua.

Dari sisi produksi, kata dia, penurunan suku bunga acuan BI akan mendukung pemulihan permintaan kredit yang masih dalam tren menurun di kuartal II tahun ini. Dengan menurunkan suku bunga acuan, harapannya bertransmisi ke suku bunga kredit. Dengan demikian, beban perusahaan maupun sektor usaha akan terkurangi. ”Dengan kombinasi percepatan belanja stimulus fiskal dan pelonggaran kebijakan moneter BI, diperkirakan akan dapat mendorong pemulihan ekonomi pada kuartal III 2020 sehingga mengurangi potensi resesi ekonomi,” ulasnya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : han/c10/fal

Saksikan video menarik berikut ini: