Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 November 2026 | 21.03 WIB

Cancel Culture Raffi Ahmad

Sugeng Winarno - Image

Sugeng Winarno

Oleh: Sugeng Winarno, Dosen Komunikasi FISIP, Mahasiswa Program Doktor Sosiologi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang

Raffi Ahmad menjadi perbincangan setelah kehadirannya dalam Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran HI, Jakarta, pada 29 Oktober 2026, menuai kritik. Kehadirannya dipersoalkan karena muncul di tengah sorotan publik terhadap dugaan pengerahan orang-orang beratribut mahasiswa yang disebut-sebut mendapat bayaran untuk menghadiri kegiatan tersebut.

Raffi kemudian memberikan klarifikasi bahwa dirinya datang sebagai undangan dan tak terlibat dalam perencanaan maupun penyelenggaraan kegiatan. Ia juga menyatakan terbuka terhadap kritik. Namun, penjelasan tersebut tak otomatis menghentikan percakapan publik.

Di media sosial (medsos), kritik berkembang menjadi seruan boikot dan ajakan untuk tak lagi mendukung berbagai aktivitas yang berkaitan dengan dia. Raffi bukan lagi sekadar figur hiburan. Ia juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.

Wajah yang akrab di layar televisi, jumlah pengikut medsos yang besar, serta kemampuan membangun kedekatan dengan masyarakat membuat seorang selebritas punya pengaruh super besar. Namun, popularitas juga bisa jadi beban ketika publik mulai mempertanyakan sikap dan pilihan orang yang selama ini mereka kagumi. Bahkan, popularitas yang selama ini menjadi sumber kekuatannya berubah menjadi titik lemah.

Publik yang dahulu ikut membesarkan namanya kini punya ruang untuk menyampaikan kekecewaan, menarik dukungan, bahkan memengaruhi keberlangsungan kegiatan yang melibatkan dirinya.

Cabut Dukungan 

Apa yang dialami Raffi Ahmad dapat dibaca melalui konsep cancel culture. Istilah ini merujuk pada praktik penarikan dukungan terhadap seseorang, kelompok, atau institusi karena tindakan, pernyataan, maupun sikap yang dinilai tak dapat diterima oleh sekelompok masyarakat.

Penarikan dukungan itu dapat dilakukan melalui kritik terbuka, penghentian konsumsi produk, pembatalan kerja sama, hingga ajakan pemboikotan. Dalam kasus Raffi, respons publik tak berhenti pada percakapan di medsos. Dampaknya terlihat dalam penyelenggaraan RANS Carnival di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 lalu.

Sejumlah musisi, di antaranya Tipe-X, Guyon Waton, Masdddho, dan OM Wawes, dilaporkan menarik diri dari acara tersebut. Sejumlah pelaku UMKM yang direncanakan ikut meramaikan kegiatan itu juga dikabarkan memilih mundur.

Peristiwa ini membuktikan bahwa kritik digital dapat bergerak melampaui layar gadget. Percakapan, komentar, dan unggahan yang semula sebagai ekspresi individual dapat menjadi tindakan kolektif.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore