
Sugeng Winarno
Oleh: Sugeng Winarno, Dosen Komunikasi FISIP, Mahasiswa Program Doktor Sosiologi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang
Raffi Ahmad menjadi perbincangan setelah kehadirannya dalam Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran HI, Jakarta, pada 29 Oktober 2026, menuai kritik. Kehadirannya dipersoalkan karena muncul di tengah sorotan publik terhadap dugaan pengerahan orang-orang beratribut mahasiswa yang disebut-sebut mendapat bayaran untuk menghadiri kegiatan tersebut.
Raffi kemudian memberikan klarifikasi bahwa dirinya datang sebagai undangan dan tak terlibat dalam perencanaan maupun penyelenggaraan kegiatan. Ia juga menyatakan terbuka terhadap kritik. Namun, penjelasan tersebut tak otomatis menghentikan percakapan publik.
Di media sosial (medsos), kritik berkembang menjadi seruan boikot dan ajakan untuk tak lagi mendukung berbagai aktivitas yang berkaitan dengan dia. Raffi bukan lagi sekadar figur hiburan. Ia juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.
Wajah yang akrab di layar televisi, jumlah pengikut medsos yang besar, serta kemampuan membangun kedekatan dengan masyarakat membuat seorang selebritas punya pengaruh super besar. Namun, popularitas juga bisa jadi beban ketika publik mulai mempertanyakan sikap dan pilihan orang yang selama ini mereka kagumi. Bahkan, popularitas yang selama ini menjadi sumber kekuatannya berubah menjadi titik lemah.
Publik yang dahulu ikut membesarkan namanya kini punya ruang untuk menyampaikan kekecewaan, menarik dukungan, bahkan memengaruhi keberlangsungan kegiatan yang melibatkan dirinya.
Apa yang dialami Raffi Ahmad dapat dibaca melalui konsep cancel culture. Istilah ini merujuk pada praktik penarikan dukungan terhadap seseorang, kelompok, atau institusi karena tindakan, pernyataan, maupun sikap yang dinilai tak dapat diterima oleh sekelompok masyarakat.
Penarikan dukungan itu dapat dilakukan melalui kritik terbuka, penghentian konsumsi produk, pembatalan kerja sama, hingga ajakan pemboikotan. Dalam kasus Raffi, respons publik tak berhenti pada percakapan di medsos. Dampaknya terlihat dalam penyelenggaraan RANS Carnival di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 lalu.
Sejumlah musisi, di antaranya Tipe-X, Guyon Waton, Masdddho, dan OM Wawes, dilaporkan menarik diri dari acara tersebut. Sejumlah pelaku UMKM yang direncanakan ikut meramaikan kegiatan itu juga dikabarkan memilih mundur.
Peristiwa ini membuktikan bahwa kritik digital dapat bergerak melampaui layar gadget. Percakapan, komentar, dan unggahan yang semula sebagai ekspresi individual dapat menjadi tindakan kolektif.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022