Mantan Ketua Wadah Pegawai KPK dan Alumni Antropologi UNAND, Nanang Farid Syam. (Ist).
MANUSIA adalah makhluk berbudaya yang terus berubah, bukan patung diam yang bisa dipaku dalam satu masa perjuangan saja. Perubahan sikap para tokoh lokal di pusat konflik agraria merupakan cermin paling jernih dari kenyataan tersebut.
Ketika seorang pejuang lingkungan di tingkat akar rumput pada akhirnya memilih keluar dari lingkaran pendampingan yang melelahkan dan berbalik mendukung janji kemajuan serta investasi negara, fenomena ini tidak boleh dinilai secara negatif sebagai sebuah pengkhianatan moral.
Melalui sudut pandang ilmu sosial, hal itu harus dibaca sebagai cara dan daya mereka untuk bertahan hidup dengan cara yang paling nyata. Di tengah himpitan kekuatan besar dan minimnya kepastian materi sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, pilihan untuk menyesuaikan diri ini menunjukkan bagaimana masyarakat lokal terus berjuang mengatur ulang ruang hidup mereka.
Ini adalah sisi kemanusiaan nyata. Di mana desakan kebutuhan hidup sehari-hari, pada akhirnya memaksa tubuh yang lelah, berkompromi dengan proyek pembangunan yang semula mereka lawan.
Papua hari ini berdiri di atas persimpangan dua kenyataan yang saling bertolak belakang dalam sejarah modern Indonesia. Di satu sisi, lembar-lembar data resmi dan rilis pers pemerintah pusat terus mendengungkan cerita tentang percepatan pembangunan, proyek strategis nasional, proyek besar lumbung pangan yang digadang-gadang sebagai penyelamat pangan nasional, serta gelontoran dana otonomi khusus yang disebut sebagai jembatan emas menuju kesejahteraan.
Namun, di sisi lain, tanah adat yang membentang dari pesisir Merauke hingga pegunungan tengah justru sedang menyaksikan pergeseran ruang hidup yang besar, hilangnya peran masyarakat lokal, dan terkikisnya ikatan kebudayaan dasar akibat masuknya industri bermodal besar.
Kenyataan di lapangan ini menunjukkan bahwa pembangunan sering kali datang bukan sebagai jabat tangan yang merangkul semua pihak, melainkan sebagai mesin pemisah yang menjauhkan masyarakat adat dari ruang alam aslinya. Dalam kondisi lingkungan dan sosial yang rapuh serta penuh tekanan inilah, karya visual seperti film dokumenter menjadi sangat penting sebagai media untuk membuka mata publik.
Hadirnya film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale, yang kemudian diikuti oleh gelombang diskusi serta gerakan nonton bareng di berbagai kota, telah memicu pembahasan baru mengenai hubungan kekuasaan antara pemilik modal, negara, dan kepemilikan tanah adat di Papua Selatan.
Ketika karya film ini masuk ke platform digital seperti YouTube, ia segera berubah dari sekadar dokumentasi visual menjadi sebuah ruang sidang terbuka di dunia maya. Platform digital ini meruntuhkan sekat geografis dan hambatan birokrasi, mengalirkan suara-suara lirih dari pedalaman Merauke langsung ke layar gawai jutaan penonton dunia.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022