
Dominicus Husada
Makin hari makin banyak vaksin diciptakan. Perjuangan melawan penyakit pun jadi lebih menggembirakan. Sebab, semua orang tahu, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Di masa depan diharapkan makin sedikit penyakit lantaran pencegahan bisa dilakukan dengan efektif.
Salah satu tantangan terbesar di bidang vaksin adalah menciptakan pencegahan untuk penyakit infeksi HIV (human immunodeficiency viruses). Hingga saat ini, belum ada satu pun kandidat vaksin HIV yang berhasil. Upaya sudah berjalan sedikitnya selama 40 tahun, sejak kali pertama HIV ditemukan. Telah sangat banyak calon vaksin yang diteliti. Kandidat vaksin HIV bahkan merupakan pemegang rekor dunia dengan lebih dari 500 calon. Namun, belum satu pun yang memberikan hasil yang sesuai dengan harapan.
Pada 2003–2006 uji klinik vaksin RV144 di Thailand sempat memberikan hasil menggembirakan. Sekalipun angka efikasi hanya sekitar 30 persen, seluruh dunia menyambut gembira. Itulah bukti pertama bahwa kekebalan terhadap HIV bisa dibangkitkan.
Secara absolut, angka tersebut memang rendah jika dibandingkan dengan persyaratan WHO untuk vaksin Covid (50 persen) atau vaksin standar lainnya yang lebih dari 80 persen. Meski demikian, memperhatikan kesulitan yang dihadapi serta sifat virus dan penyakit infeksi HIV, pencapaian itu menjadi salah satu tonggak penting. Sayang sekali, angka tersebut hanya bertahan selama setahun. Karena itu, RV144 tidak jadi digunakan secara massal.
Keunikan HIV
HIV mempunyai beberapa keunikan. Pertama, HIV menyerang sistem kekebalan tubuh yang menjadi senjata utama pada saat vaksin diberikan. Karena sistem kekebalan runtuh, tidak ada lagi yang bisa dibangkitkan ketika vaksin dimasukkan.
Kedua, HIV sangat mudah bermutasi. Kemampuan mutasi itu jauh melampaui virus SARS-CoV-2 dan influenza. Belakangan kita tahu, mutasi virus SARS-CoV-2 juga sulit ditundukkan dengan vaksin secara jangka panjang. Secara agregat, kemampuan mutasi HIV seratus kali lebih dahsyat daripada virus penyebab Covid-19 itu. Ketiga, HIV bersembunyi pada kelenjar limfa di berbagai lokasi yang pada hakikatnya merupakan salah satu organ penting yang jumlahnya sangat banyak.
HIV adalah satu di antara tiga penyakit di dunia yang membutuhkan pendanaan sangat besar. Karena itu, penelitian mencari pencegahan dan pengobatannya, selain tentu saja penelitian di bidang lainnya, bisa berlangsung secara terus-menerus dan berskala luas.
Pandemi Covid-19 melahirkan beberapa vaksin dengan konsep baru. Memang, upaya penelitian telah dilakukan jauh sebelum pandemi terjadi. Namun, penggunaan secara massal untuk vaksin RNA, DNA, dan vaksin bervektor virus baru terjadi pada era pandemi empat tahun terakhir.
Keberhasilan beberapa vaksin mutakhir membuat para ahli mulai mencoba menggunakannya untuk vaksin HIV. Karena penelitian vaksin memerlukan waktu panjang (umumnya lebih dari 10 tahun), hasil terobosan mutakhir itu belum bisa dilihat dalam 1–2 tahun ke depan.
Vaksin Pengobatan
Upaya lain yang juga gencar dilakukan adalah mengalihkan vaksin yang semula dibuat dengan tujuan pencegahan menjadi bertujuan pengobatan. Artinya, vaksin diberikan pada orang yang sudah terinfeksi dengan harapan perjalanan sakit tidak berlanjut. Hal itu berbeda dengan vaksin pencegahan yang diberikan kepada orang yang belum tertular.
Vaksin RV144 adalah salah satu yang dialihfungsikan menjadi vaksin pengobatan setelah dikombinasikan dengan dua vaksin lain yang juga gagal berfungsi untuk pencegahan.
Hingga akhir 2024, dunia belum sepenuhnya berhasil menaklukkan HIV. Target menghilangkan penyakit baru pada 2030 sangat boleh jadi tidak akan tercapai. Saat ini saja, baru ada 9 negara yang bisa mencapai keberhasilan. Sepuluh negara tambahan sedang dalam proses yang sudah mendekati akhir.
Di antara 20 negara dengan penderita HIV terbanyak di dunia, yang sebagian besar berada di Benua Afrika, belum ada satu pun yang menunjukkan keberhasilan memuaskan untuk menurunkan kasus. Tahun lalu tercatat 1,3 juta penderita baru di seluruh dunia. Di Asia, penderita HIV terbanyak ditemukan di India dan Thailand.

Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Lionel Messi vs Mohamed Salah, Albiceleste Diunggulkan ke Perempat Final
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Kirim Pulang Tuan Rumah
Kontroversial! Wasit Inggris Anthony Taylor Pimpin Portugal vs Spanyol di Piala Dunia 2026, Rekam Jejak Jadi Sorotan
Daftar 32 Negara Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Dirilis Iran, Indonesia Tak Masuk, Warganet Bertanya-tanya
Arogan Tonjok Pengendara di Jalan Jagakarsa, 'Bang Jago' Tak Berdaya Ditangkap di Rumahnya
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Sesumbar De Nati Andalkan Manzambi
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Bungkam Tuan Rumah
