alexametrics

Level 1 Bukanlah Garis Finis

Oleh I GEDE ALFIAN SEPTAMIARSA *)
21 September 2021, 19:48:10 WIB

MENANGANI Covid-19 ibarat pertandingan lari tanpa garis finis. Semua tidak tahu kapan pandemi ini berakhir. Pencapaian level 1 bukan akhir dari pertandingan. Wasit pun tidak bisa memastikan apakah hasil tersebut sudah berarti sebuah kemenangan.

Level 1 hanya status. Lintasan lari masih panjang. Ada dua kemungkinan. Pertama, tetap berada pada level 1. Kedua, sekali lengah bisa kembali ke level 2. Seorang pelari harus bisa menjaga ritme langkah kaki dan napas yang dimiliki. Begitu juga pemerintah. Langkah kaki diibaratkan strategi penanganan Covid-19. Lalu, napas diibaratkan kondisi perekonomian.

Pada level 1, setidaknya atlet bisa sedikit lega. Dia berada pada posisi terdepan. Sikap yang ideal untuk dilakukan adalah menjaga ritme, yakni melakukan kebijakan strategis untuk memulihkan ekonomi. Patut dilakukan. Tanpa bernapas, atlet tidak bisa berlari. Aktivitas ekonomi lesu, masyarakat tidak bisa berpikir secara rasional. Termasuk pemerintah.

Kebijakan akan sulit diambil. Seperti pelari yang tak sanggup memijakkan kaki karena napas habis. Karena itu, level 1 menjadi momentum mengembalikan aktivitas ekonomi tanpa mengesampingkan pola penanganan Covid-19 yang ideal.

Sesuai hasil asesmen yang dirilis di website Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tanggal 15 September 2021, Provinsi Jawa Timur (Jatim) masuk dalam kategori level 1 asesmen situasi Covid-19 yang pertama dan satu-satunya se-Indonesia. Dalam penilaian asesmen situasi level 1 Kemenkes RI itu, Jatim dinilai mampu karena tingkat penularan yang rendah dan kapasitas respons yang memadai. Penilaian tersebut didasari hasil enam parameter. Yaitu kasus konfirmasi, rawat inap rumah sakit (RS), kematian, testing, tracing, dan treatment yang dilakukan secara masif serta terukur sehingga menghasilkan predikat memadai.

Di Jatim, sebanyak 37 kabupaten/kota berada pada zona kuning atau risiko rendah. Sementara masih ada satu daerah yang masih berada di zona oranye atau risiko sedang, yaitu Kota Blitar. Kondisi tersebut dicapai atas kekompakan dan sinergi pemerintah, forkopimda, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, dan didukung berbagai elemen strategis masyarakat di Jatim. Termasuk melibatkan pentahelix approach, di mana terdapat pemerintah, swasta, perguruan tinggi, media, dan masyarakat.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di setiap kesempatan terus bersinergi dengan Forkopimda Jatim seperti Kapolda Jatim, Pangdam V/Brawijaya, Pangkoarmada II, Kabinda Jatim, dan Kajati Jatim, khususnya dalam penanganan Covid-19. Mulai dalam vaksinasi, pelaksanaan PPKM darurat maupun berlevel, hingga 3T (testing, tracing, dan treatment).

Saat terjadi peningkatan kasus di Kabupaten Bangkalan, gubernur bersama-sama dengan Forkopimda Jatim, bupati Bangkalan, wali kota Surabaya, dan forkopimda di kedua daerah langsung bergerak cepat menangani permasalahan tersebut. Hasilnya cukup menggembirakan bagi Jatim. Dan kekompakan itu terus dibawa hingga level kabupaten/kota.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, Jatim bukan kali pertama berada pada posisi aman. Misalnya, September tahun lalu, kondisi sebenarnya sudah cukup terkendali. Berbagai aktivitas sudah mulai digelar meskipun tetap menjalankan protokol kesehatan. Salah satunya, tempat wisata dibuka.

Namun, ada beberapa elemen yang lengah. Libur panjang membuat lupa pandemi masih ada. Peningkatan kasus mulai terjadi pada November. Begitu juga Januari 2021, lonjakan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 terjadi seusai libur panjang. Hal yang sama terjadi di negara-negara yang sudah lebih dahulu mampu menekan angka kasus Covid-19, kemudian mengendurkan protokol kesehatan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads