
A.S. Laksana
Pada Sabtu, 20 Agustus 2016, saya makan nasi goreng bersama penyair Afrizal Malna di trotoar depan gerbang Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Malam itu saya baru saja mengajar kelas penulisan kritik sastra yang diadakan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Pada hari yang sama, komite teater menyelenggarakan diskusi. Afrizal adalah ketua Komite Teater DKJ untuk kepengurusan periode 2015–2018.
Di antara para pedagang di trotoar tempat kami makan, ada seorang peramal yang saya perhatikan belum didatangi satu orang pun sejak kami duduk menunggu makanan yang kami pesan. Selesai makan, kami mendatangi peramal itu. Ia meramal dengan kartu dan mahir juga membaca garis tangan. Suaranya sungguh mengejutkan: kecil sekali, tetapi tegas dalam menyampaikan hasil bacaannya terhadap garis tangan kami atau kartu yang kami pilih.
Setelah kami berempat, beberapa anak muda mulai mendatangi peramal itu. Dan ketika kami meninggalkan tempat, saya melihat peramal itu dikerubuti banyak orang. Kami pulang bersama, menumpang mobil pelukis Hanafi.
”Komite teater meriah sekali, Zal,” kata saya kepada Afrizal. ”Tiap minggu ada acara.”
”Kupikir memang harus ada banyak acara, entah besar entah kecil,” katanya. ”Sekarang ini kita menghadapi banjir informasi. Segala hal berusaha menarik perhatian orang. Jika komite teater hanya mengadakan acara setahun dua atau tiga kali, itu tidak ada gunanya, tidak akan bisa mencuri perhatian orang.”
Pekan sebelumnya, saya ingat komite teater mengadakan acara seni kejadian di teras depan gedung DKJ. Ada orang mencukur rambut; ada seorang pemuda meletakkan telapak tangannya pada balok es; saya pikir ia membeku karena tidak bergerak dalam waktu sangat lama. Saya pikir ia akan terus seperti itu sampai seluruh balok es yang dipegangnya mencair. Di dalam gedung, saya lihat ada yang memperagakan gerak aneh, entah meditasi entah yoga, dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kolor.
Kami membicarakan teater dan Afrizal menyampaikan sejumlah gagasan yang ia ingin lakukan bersama komite teater. Saya mendengarkannya saja. Saya tidak terlalu memahami teater. Persinggungan saya dengan teater terlalu murung. Dulu ketika SMP saya pernah ikut ekstrakurikuler teater karena diajak teman. Sudah sempat berlatih pembacaan naskah, seingat saya Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer, tetapi pementasan dibatalkan.
Ikut lagi ekstrakurikuler teater saat SMA dan hanya sempat dua kali datang latihan. Saya terlalu kikuk di depan banyak orang dan rasanya hampir menangis ketika diminta berakting. Suara saya tidak terdengar meski saya merasa sudah mengucapkan setiap kalimat keras-keras.
Akhirnya saya meyakini bahwa saya tidak memiliki bakat sama sekali dalam teater dan kemudian memutuskan menjadi penonton saja sesekali. Dan sekarang saya merasa agak bersalah karena kepala saya nyaris tidak menyimpan ingatan bahwa naskah drama adalah bagian dari sastra.
Saya tahu bahwa di dalam daftar para peraih Nobel Sastra, 109 orang sejak 1901 hingga sekarang, ada 20 nama sastrawan yang menulis naskah drama. Di antara mereka ada Luigi Pirandello, Samuel Beckett, Dario Fo, Eugene O'Neill, George Bernard Shaw, dan Harold Pinter. Selain mereka, para penulis seperti Rabindranath Tagore, penyair T.S. Eliot, dan Jean-Paul Sartre juga menulis naskah drama.
Dan aneh sekali bahwa saya melupakan drama di dalam sastra Indonesia. Mungkin karena tidak banyak naskah drama karya penulis Indonesia yang diterbitkan menjadi buku. Mungkin penerbit berpikir tidak akan ada yang membeli naskah drama.
Buku kumpulan puisi, yang sama-sama tidak memancing minat pembeli buku, masih lebih diterima penerbit daripada naskah drama. Saya tidak tahu apakah sekarang ada orang yang bercita-cita menjadi penulis naskah drama. Jika ada, kelihatannya itu akan menjadi cita-cita yang suram.
Saya curiga jangan-jangan seperti itu juga di kepala kebanyakan orang. Ketika orang berhasrat menekuni dunia penulisan, kebanyakan mereka berpikir untuk menjadi penulis fiksi atau puisi. Jarang sekali yang berpikir untuk menjadi penulis naskah drama.
Tiba-tiba saja saya memikirkan teater. Mungkin karena sering melihat acara-acara yang diadakan Komite Teater DKJ. Jika seperti itu, berarti serbuan gencar yang dilakukan Afrizal dan Komite Teater DKJ berhasil, setidaknya saya menjadi mulai ingat tentang teater.
”November nanti kami menggelar Festival Teater Jakarta,” katanya sebelum saya turun. ”Datanglah menonton.”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Malaga vs Levante: Laga Sengit yang Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Heerenveen vs AZ Alkmaar di Liga Belanda: Kans De Kaasboeren Pesta Gol!
Dr. Iwan Aflanie, Pakar Forensik Indonesia untuk ULM yang Lebih Maju
