alexametrics

Sepak Bola: Kemungkinan, Keajaiban

Oleh Darmanto Simaepa*
10 Mei 2019, 18:10:41 WIB

JawaPos.com – Air mata tumpah di Anfield dan Amsterdam Arena. Air mata bahagia. Juga air mata duka nestapa.

Air mata itu tumpah di pelupuk mata Mauricio Pochettino. Ia mengalir dari ribuan pasang mata di Anfield. Ia membasahi mata nanar Lionel Messi. Pagi-pagi, air mata itu tak kunjung mengering dari wajah-wajah remaja Belanda yang pergi ke sekolah.

Air mata sepak bola mengalir sampai jauh. Menetes di depan layar HP streaming di India. Tumpah di depan layar televisi, di ruang keluarga rumah-rumah di Argentina. Bahkan, air mata itu membasahi tempat tidur kita.

Semifinal Liga Champions tahun ini mengaduk-aduk perasaan dan emosi. Sepanjang 180 menit, dua laga menuju final ini juga memaksa jantung kita berdegup kencang, darah kita berdesir, dan di akhir perjalanannya memaksa mata kita berair.

Sepanjang waktu itu, kita disiksa untuk bertanya-tanya air mata mana yang akan kita dapatkan di ujung pertandingan. Apakah kita akan punya air mata yang diiringi rasa lega dan gembira? Atau air mata yang mengikuti isak tangis dan perasaan merana?

***

Bagi Liverpool dan Tottenham Hotspur serta para pendukung, dua pertandingan terakhir di musim ini bisa mengantar mereka ke jurang kegagalan. Sejengkal saja mereka berjarak dari kepecundangan.

Liverpool sedang menghadapi kutukan lama. Memulai musim dengan bagus, tetapi berakhir dengan tangan kosong. Di ujung terowongan, cahaya yang dinanti tak jua muncul: juara liga tak kunjung diraih, menjadi pecundang tak dapat ditolak.

Bagi Spurs, kekalahan oleh Ajax bisa menjadi awal dari akhir sebuah proyek ambisius yang sedang dimulai untuk mengubah garis tangan. Bagi Pochettino dan para pemain bintangnya, proyek lima tahun tanpa piala berpotensi menjadi pengantar untuk keluar dari pintu stadion mewah yang baru saja berdiri.

Dua tim Inggris itu koyak-moyak oleh badai cedera, kompetisi domestik yang menguras tenaga, dan kekecewaan besar pada leg pertama.

Sementara itu, Ajax Amsterdam dan Barcelona begitu dekat, sangat dekat, dari mimpi treble-nya. Dua-duanya sudah menggenggam satu piala dari kemungkinan tiga. Ajax mengangkat piala KNVB, Barca juara La Liga.

Dua tim yang mewarisi filosofi sepak bola Johan Cruijff itu lebih bugar dan punya waktu istirahat yang lebih panjang. Barcelona punya pemain terbaik di dunia. Ajax, sementara itu, punya calon-calon pemain terbaik dunia.

Mereka dianggap punya pelatih dengan penguasaan taktik yang lebih canggih, dan terutama, keunggulan di laga pertama. Pendek kata, mereka punya momentum.

Tapi, sepak bola selalu memberikan plot dan narasi yang tak terduga. Dalam 90 menit, peristiwa-peristiwa kecil bisa mengubah segalanya. Gol cepat di kandang mengubah hawa dan suasana pertandingan. Gol tandang bisa membuat lawan, yang biasanya rileks dan percaya diri, menjadi gugup, rentan, dan terancam.

Pendulum sepak bola berayun begitu cepat, berpindah dari satu kejutan ke kejutan yang lain, bolak-balik dari satu peluang ke peluang yang lain. Di ujung pertandingan, sepak bola menghadiahi kita pelajaran tentang keajaiban.

***

Air mata yang tumpah setelah pertandingan di Anfield dan Amsterdam Arena lebih deras dari biasanya. Bukan hanya karena pertandingan itu mempertontonkan kecanggihan formasi, kebugaran, jumlah peluang, pelanggaran, atau tembakan ke arah gawang.

Ya, aspek-aspek teknis itu memang penting dan berpengaruh. Namun, sepak bola dan emosi yang diberikannya selalu dan akan selalu melampaui statistik atau taktik.

Juergen Klopp bicara tentang kebesaran jiwa. Dia tidak bicara banyak tentang mengisolasi Messi, gegenpressing, atau penguasaan bola. Dia menganjurkan pemainnya untuk menikmati kesempatan, meski sangat kecil, yang diberikan sepak bola dan memanfaatkan sebaik-baiknya.

Alih-alih, Klopp menyeru pemainnya untuk mencoba berjuang sekuat tenaga dan gagal dengan indah. Lebih baik gagal total pada akhir pertandingan daripada berpikir kalah sebelum memulai permainan.

Pochettino bicara tentang mimpi dan hasrat yang besar. Menurut dia, formasi bisa salah atau taktik bisa keliru. Tapi, mereka tidak pernah menyerah untuk tetap percaya bahwa sepak bola memberikan segala kemungkinan-kemungkinan yang paling tak terbayang sekalipun.

Bagi tim yang runtuh moralnya dan kecil jiwanya, tertinggal 3-0 (90 menit buat Liverpool dan 45 menit buat Spurs) adalah akhir segalanya. Namun, Klopp dan Pochettino membuat Liverpool dan Spurs tetap percaya bahkan ketika cahaya di ujung terowongan nyaris padam.

Keduanya membuktikan, sebelum peluit terakhir dibunyikan, sepak bola selalu menawarkan kemungkinan.

Semifinal Liga Champions tahun ini adalah cerita tentang kemenangan kebesaran hati dan kepercayaan untuk menghadapi kemustahilan. Liverpool dan Spurs tidak bermain dominan dan terus-menerus berada dalam ancaman dan ketidakmenentuan.

Satu tikungan nasib saja akan membuat mereka tersungkur. Ingat one-on-one Luis Suarez dan Jordi Alba dengan Alisson Becker ketika skor agregat masih 3-1 atau dua kali tendangan Hakim Ziyech dari kotak penalti ketika skor di Arena masih 2-1 untuk Ajax?

Namun, kebesaran jiwa mengalahkan rasa takut. Mereka tak lelah berlari dan berduel. Sementara Barca dan Ajax, meski unggul besar, terlihat gugup dan ciut nyali mendekati 45 menit terakhir, Liverpol dan Spurs semakin berani mengambil risiko.

Mereka mengetuk-ngetuk pintu dewa sepak bola agar memberikan keberuntungan dan peluang kepada mereka. Mereka terus menari di hadapan pertunjukan nasib.

Dan ohhhh, dewata sepak bola yang agung kali ini memberikan janji kepada hambanya yang percaya, tak berhenti berusaha, dan berlapang dada menerima segala kemungkinan nasib.

Itulah kenapa air mata sepak bola membanjir di mana-mana. Air mata bahagia Liverpool dan Spurs mengingatkan kita bahwa sepak bola selalu memberikan keajaiban kepada mereka yang percaya dan besar jiwanya. (*)

*) Penulis Buku “Tamasya Bola”

Editor : Ilham Safutra