
Eka kurniawan
SEKALI waktu saya ingin mengganti ban mobil yang sudah pecah-pecah. Saya mencari toko ban di sekitar rumah dan menemukannya. Tokonya komplet dengan peralatan bengkel yang canggih. Saya disambut pemiliknya: sepasang suami istri berumur awal 30-an.
Bagaimana pasangan semuda itu menguasai seluk-beluk bengkel dan jual beli ban? Mereka berani memasang tarif lebih murah dari pesaingnya yang lebih besar, membuat tokonya ramai. Tak perlu lama bagi saya untuk mengetahui rahasianya.
Tak jauh dari toko ban itu, ada toko lain dengan nama yang sama. Toko itu milik orang tua si istri. Rahasia sukses membuka bengkel dan toko ban adalah… punya keluarga yang terjun di bidang yang sama!
Apakah saya sedang bercanda? Tidak. Ingin jadi politikus sukses hingga menjadi ketua DPR? Akan lebih mudah jika ibumu Megawati dan kakekmu Soekarno. Punya ambisi jadi wali kota Solo? Lebih mudah jika ayahmu Joko Widodo.
Ingin jadi anak band dan pintar main musik? Jalanmu jauh lebih mudah jika ayahmu Ahmad Dhani dan ibumu Maia Estianty. Rahasianya di sini: Dari bayi, kamu sudah melihat gitar, piano, drum. Dari kecil, telingamu terbiasa mendengarkan musik, bermain ke studio, dan melihat konser.
Lantas, bagaimana cara orang kebanyakan tanpa latar belakang lingkungan dan keluarga macam begitu meraih sukses di bidang itu? Sialnya, buku-buku yang saya baca, saya menyukai kesusastraan, umumnya tak mengajarkan saya kesuksesan.
Saya baru saja membaca cerpen Alexander Pushkin, The Queen of Spades. Itu bercerita tentang anak muda yang berharap memperoleh rahasia kesuksesan di meja judi.
Satu sosok hantu perempuan memberinya rahasia itu. Sukses? Boro-boro. Hantu itu rupanya merupakan gambaran ketamakannya belaka, yang justru sukses mengirimkannya ke rumah sakit jiwa.
Ingat juga Lapar karya Knut Hamsun. Itu kisah seorang pemuda yang berambisi menjadi penulis hebat. Cocok. Saya juga ingin jadi penulis. Alih-alih memperoleh kemasyhuran, si tokoh malah menghadapi susahnya jadi penulis. Penuh derita dan perut keroncongan. ”Lebih baik jadi kelasi kapal saja.” Begitu kira-kira pesannya.
Kadang saya mengintip latar belakang penulis untuk mencari tahu kenapa mereka sukses. Lihat Mary Shelley, penulis Frankenstein. Ternyata dia datang dari keluarga intelektual, bahkan sejak kecil diajari ayahnya berbagai bahasa asing agar bisa membaca banyak buku.
Apakah itu seperti pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Tak persis seperti itu. Jika sejak kecil sudah membaca buku dalam berbagai bahasa, peluang menjadi intelektual memang lebih besar; sebagaimana jika sejak kecil hidup di lingkungan garong, peluang jadi perampok juga besar.
Sekali lagi, jadi bagaimana jika keluargamu tak punya tradisi intelektual, tapi pengin jadi penulis dan pemikir? Bagaimana jika di keluargamu tak ada gitar atau piano, tapi pengin jadi anak band?
Saya rasa, di titik inilah berbagai kisah sukses masuk dan bagaimana orang-orang menyukainya. Ia memberi harapan. Sebab, tanpa harapan, apalah artinya hidup? Barack Obama, anak separo kulit hitam, bukan keluarga Kennedy atau Bush, toh bisa jadi presiden Amerika.
Masalahnya, kebanyakan kisah sukses, di novel maupun di film, di televisi maupun di obrolan warung kopi, terus mengglorifikasi pencapaian individu semacam itu. Semacam kisah tentang perjuangan hidup, keteguhan hati, dan keyakinan pasti membawamu ke keberhasilan.
Ngomong-ngomong soal semangat untuk terus berjuang, saya malah teringat Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway. Sudah berhari-hari dia tak berhasil menangkap ikan, tapi dia tetap melaut. Tetap berjuang dan yakin bisa menangkap ikan. Apakah dengan modal perjuangan dan keyakinan dia berhasil?
Ya, dia berhasil menangkap seekor marlin besar. Tapi, marlinnya habis dirampok ikan-ikan hiu. Tanpa harus dikatakan di novel itu, saya bisa membayangkan, menangkap ikan jauh lebih mudah jika kamu punya kapal besar dengan belasan kru terlatih.
Sejujurnya, saya lebih senang membicarakan kisah sukses yang jauh lebih nyata: untuk sukses membuka bengkel dan toko ban, memang lebih mudah jika punya orang tua dalam bisnis itu. Tak perlu sungkan untuk mengatakan bahwa seseorang berhasil menjadi CEO start-up ya karena keluarganya juga memiliki perusahaan besar.
Itu menjadi penting justru untuk menyadarkan kita bahwa selain urusan kerja keras, motivasi, keteguhan pribadi, ada hal yang jauh lebih penting: akses. Untuk jadi anak band, kamu harus punya akses terhadap alat dan pengetahuan musik, juga melihat dan mendengar musik. Untuk jadi pengusaha, kamu harus akrab dan memiliki akses terhadap jejaring bisnis.
Dan, yang menyediakan akses itu tak selalu harus orang tua. Di sinilah negara dan masyarakat seharusnya hadir. Jadi penulis? Tak perlu punya orang tua yang juga penulis. Cukup punya akses terhadap bacaan bermutu dan tradisi berpikir yang bebas, sehat, dan terbuka di masyarakat. (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022