Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 September 2025 | 22.07 WIB

Sampai Kapan Konflik Truk dan Ruang Jalan di Parung Panjang Selesai?

Foto udara suasana kemacetan parah yang didominasi truk tambang dan kendaraan pribadi di Jalan M. Toha, Parungpanjang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (6/8/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

PARUNG PANJANG. Sebuah nama kecamatan yang belakangan ini begitu viral di media sosial (medsos). Selama ini Parung Panjang tidak banyak dikenal. Bahkan masih ada orang belum tahu Parung Panjang itu berlokasi wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menariknya, meski menjadi bagian dari Jawa Barat atau Kabupaten Bogor, tetapi Parung Panjang lebih dekat dengan Kabupaten Tangerang. 

Parung Panjang ini bersebelahan langsung dengan Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Bahkan ada jalan raya yang menghubungkan dua daerah ini, yaitu Jalan Raya Parung Panjang. Jalan yang menghubungkan wilayah Legok dan Pagedangan. Kedua kecamatan itu bagian dari Kabupaten Tangerang. 

Parung Panjang mulai berdengung sejak beberapa tahun terakhir di medsos maupun media arus utama. Ramainya Parung Panjang menjadi perbincangan, karena warga setempat berusaha ingin mendapatkan haknya dengan baik. Hak udara bersih, hak jalan yang rata, hak mendapatkan ruang jalan.  

Mereka berjuang merebut haknya yang "dirampas" oleh truk-truk yang bersiliweran di kawasan itu dari pagi sampai malam. Meskipun selama ini sudah diatur soal bagaimana aturan truk melintas, tetapi jalan raya Parung Panjang (Jalan M Toha) tetap memilik teror "truk". Terornya, jalan yang hanya bisa dilewati satu mobil dan satu sepeda motor dalam satu arah atau dua arah 2 mobil dan 2 sepeda motor.

Sejatinya Jalan Parung Panjang tidak menjadi masalah, jika truk itu tidak melintas pada pagi hingga sore hari. Pada jam-jam itu merupakan waktu yang begitu padat oleh pengguna jalan non-truk. Persoalannya, truk sudah melintas pada pagi hari pukul 06.00 hingga pukul 10.00. Semula demikian. Belakangan bahkan ada truk yang melintas sejak siang pukul 13.00 hingga malam. Truk itu datang dari dua arah. Dari arah Tangerang maupun arah Sudamanik atau daerah Cigudeg, Gerowong, atau perbukitan.  

Truk-truk yang datang dari arah Parung Panjang, tepat melintas di Parung Panjang karena datang dari arah gunung-gunung di arah Gunung Salak, arah Cigudeg, Gerowong. Truk itu memuat pasar, batu-batu untuk kontruksi bangunan. Kondisi truk itu melintas sangat membahayakan. Tidak jarang truk itu tidak menutupi muatannya dengan terpal. Jika truk berhenti mendadak atau terhembus angin maka muatan itu jatuh dan menimpa pengendara lain. Tidak jarang korbannya pengendara sepeda motor.  

Belum lagi kondisi jalan yang rusak parah. Rusaknya jalan ini bukan karena sepeda motor atau mobil pribadi, tetapi rusak akibat dilintasi truk-truk yang kelebihan muatan atau kelebihan tonase. Jalan rusak tidak segera diperbaiki. Jalan itu dibiarkan rusak. Rusak yang semula berupa lubang kecil jadi besar. Lubang cuma satu dua, kini hampir merata di setiap rusak.

ILHAM SAFUTRA

Ketika jalan itu rusak, truk malah memilih melintas di jalan yang tidak rusak. Alhasil dia melawan arah mengambil hak jalan pengendara dari arah lain. Akibatnya, cara berlalu lintas demikian membuat kecelakaan tidak terhindarkan.  

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore