Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 November 2023 | 18.34 WIB

Sisi Gelap Distribusi Vaksin Cacar Monyet

Ari Baskoro - Image

Ari Baskoro

DI tengah-tengah gegap gempitanya aktivitas politik di tanah air, pelan tapi pasti wabah cacar monyet mampu mengusik perhatian publik. Sejak terdeteksinya penyakit zoonosis (ditularkan dari hewan ke manusia) itu pada 13 Oktober 2023, jumlah kasus di Indonesia terus merangkak naik. Hingga 5 November 2023, sudah tercatat 34 kasus. Kementerian Kesehatan memprediksi jumlah itu terus melaju hingga bisa mencapai 3.600 kasus.

Para ahli epidemiologi berpendapat, kasus-kasus yang terdeteksi sebenarnya hanya merupakan suatu puncak fenomena gunung es. Sangat mungkin kasus yang terjadi di masyarakat jauh melampaui angka-angka tersebut. Mayoritas kasus terdeteksi di Jakarta. Semuanya adalah laki-laki dengan rentang usia 25 hingga 50 tahun.

Negara kita sebelumnya pernah mencatat hanya satu kasus cacar monyet (monkeypox/mpox) pada Agustus 2022. Saat itu sumber penularannya sudah jelas terkuak. Adanya riwayat perjalanan ke luar negeri bagi yang bersangkutan, khususnya di negara-negara yang terkena dampak mpox, sudah cukup memberi asumsi. Tetapi, pola penularan yang terjadi saat ini amat berbeda.

Bukan kasus impor, melainkan hasil transmisi lokal. Sulit diketahui benang merah asal mula penyebabnya. Fenomena itu merupakan pola yang tidak lazim terjadi, seperti gambaran kasus-kasus pada masa-masa sebelumnya. Paradigma epidemiologi seperti itulah yang dikhawatirkan bisa menimbulkan dampak wabah yang tak terduga.

Hingga akhir Oktober 2023, mpox telah menyebar di 116 negara di seluruh dunia. Hanya tujuh negara di antaranya yang sebelumnya dikenal sebagai negara endemis penyakit tersebut. Sisanya sebanyak 109 negara, termasuk Indonesia, merupakan negara yang sejatinya bukanlah ’’habitat alamiah” mpox. Selama ini paparan penyakit hanya bisa terjadi pada para pelancong yang baru mengunjungi daerah endemis di Afrika Tengah dan Afrika Barat.

Cacar monyet disebabkan virus monkeypox (biasa disingkat MPXV) yang termasuk dalam genus Orthopoxvirus. MPXV merupakan anggota dari suatu ’’keluarga” virus yang terdiri atas variola (penyebab cacar), cacar sapi, vaccinia, dan beberapa virus lainnya.

Wabah cacar yang terjadi selama abad ke-20 bertanggung jawab atas 300–500 juta kematian global. Pada awal 1950, wabah itu telah menjangkiti sekitar 50 juta penduduk per tahunnya di seluruh dunia. Tindakan vaksinasi massal yang sukses sepanjang abad ke-19 dan ke-20 telah berhasil meredam keganasan cacar. Akhirnya pada 1979, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan bahwa dunia telah bebas dari cacar. Diperlukan waktu hingga 200 tahun lamanya untuk menghentikan tragedi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan itu!

Dalam konteks wabah global sejak setahun yang lalu itu, timbul pola klinis yang berbeda dengan awal mula dikenalinya penyakit menular tersebut. Ruam-ruam yang muncul tidak selalu menyebar ke seluruh tubuh. Lesi yang terasa nyeri tersebut sering hanya terjadi pada area selangkangan, anus, serta di dalam atau sekitar mulut. Meski secara umum bisa sembuh sendiri (self-limiting disease), pada individu dengan gangguan sistem imun (contohnya HIV/AIDS) penyakit itu dapat memantik terjadinya fatalitas. Anak-anak dan perempuan hamil relatif akan lebih mudah mengalami risiko komplikasi.

Orang yang paling berisiko tinggi terpapar mpox adalah laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) atau biseksual. Akibat yang sama bisa timbul pada seseorang yang memiliki banyak pasangan seksual. Penularan dimungkinkan dapat terjadi melalui benda-benda yang terkontaminasi virus. Misalnya, pakaian/linen atau peralatan tato. Percikan pernapasan (droplet) atau aerosol melalui kontak erat antarindividu dapat pula menimbulkan penularan.

Vaksinasi

Sejak 23 Juli 2023, WHO menyatakan wabah global mpox sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Sayangnya, hingga kini belum ada pengobatan spesifik antivirus untuk mpox. Tulang punggung pengendalian wabah mpox tidak lain adalah tindakan vaksinasi, selain menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Vaksin yang dikembangkan untuk memberantas cacar (variola) dirancang dari komponen antigen virus vaccinia. Daya proteksinya bersifat silang, artinya dapat pula mencegah paparan mpox. Tingkat efektivitasnya bisa mencapai 85 persen. Hingga kini, hanya ada dua jenis vaksin yang dapat digunakan untuk melindungi manusia dari paparan MPXV. Meski telah disetujui penggunaannya oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), satu jenis vaksin, yakni ACAM2000, terbatas indikasi penggunaannya. Masalahnya terkait dengan sisi keamanan karena efek sampingnya cukup signifikan.

Untuk satu jenis vaksin lagi yang digunakan secara global, yakni Jynneos, persediaannya amat terbatas. Platformnya dari vaccinia yang dilemahkan (modified vaccinia Ankara/MVA). Profil keamanannya lebih baik dan dapat diindikasikan pada individu dengan gangguan sistem imun. Bisa pula diaplikasikan pada perempuan hamil dan anak-anak di bawah usia 18 tahun. Satu-satunya perusahaan yang memproduksinya adalah Bavarian Nordic (BN) di Denmark. Kapasitas produksi per tahunnya hanya mencapai 30 juta dosis.

Saat ini negara-negara berpenghasilan tinggi di dunia berlomba mendapatkan pasokan dosis vaksin untuk kebutuhan mereka masing-masing. Sebagai contoh, Amerika Serikat telah ’’mengontrak” lebih dari setengah kapasitas produksi BN. Beberapa negara maju di Eropa, Kanada, dan Australia juga berbuat hal yang sama. Negara kita telah memesan sebanyak dua ribu dosis saja.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore