
Ilustrasi peralatan rapid test. Hanif Nashrullah/Antara
DIAGNOSIS sebuah agen infeksi telah lama diketahui melalui dua mekanisme. Deteksi mikroba penyebab, baik bakteri maupun virus, dan deteksi respons tubuh terhadap infeksi itu sendiri.
Di dalam dunia medis, diagnosis penyakit infeksi dikenal dengan ”standar emas” (gold standard), yakni cara yang dilakukan sebagai pedoman utama dan pasti atau hampir pasti di dalam menentukan penyebab sebuah penyakit.
Sedangkan metode lain dikenal sebagai metode untuk memprediksi sebuah penyakit. Jika ingin memastikan, diperlukan diagnosis ikutan dengan menggunakan standar emas.
Metode standar emas biasanya dilakukan dengan cara mendeteksi mikroba secara utuh atau yang sering dikenal dengan biakan atau kultur. Hal itu sudah dilakukan secara rutin di dalam pelayanan mikrobiologi klinik, khususnya oleh para spesialis mikrobiologi klinik yang tersebar di Indonesia.
Dua Jenis Rapid Test
Khusus untuk Covid-19, telah disepakati secara global, standar emas untuk diagnosis adalah menggunakan PCR (polymerase chain reaction), yang salah satu varian dari metode itu adalah real time PCR (RT-PCR).
Bagaimana rapid test?
Ada dua jenis rapid test. Model pertama, dengan deteksi bakteri atau virus atau bagian dari mikroba tersebut yang dikenal dengan antigen. Antigen adalah satu atau lebih bagian dari tubuh bakteri atau virus. Khusus untuk virus penyebab Covid-19, bisa kapsul virus atau protein yang dikeluarkan atau diproduksi virus atau bagian tubuh virus yang lain.
Rapid test model kedua, mengetahui indikator yang dikaitkan dengan respons tubuh terhadap virus atau bakteri. Model itu dikaitkan bahwa setiap infeksi selalu disertai respons tubuh inang (host = pasien) –yang salah satu bentuknya adalah menghasilkan substansi untuk melawan virus agar segera menghilang dari tubuh. Bahan itu sering dikenal dengan antibodi.
Antibodi merupakan substansi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk melawan semua penyakit, salah satunya Covid-19. Saat ini timbul pertanyaan dari kebanyakan masyarakat: Di mana posisi rapid test yang didasarkan pada deteksi antibodi tersebut?
Telah diketahui, jika seseorang terinfeksi virus, tubuh merespons dengan membentuk antibodi. Pertanyaannya, kapan antibodi tersebut dibentuk?
Secara umum, antibodi di dalam tubuh muncul sejak minggu pertama infeksi dan umumnya mencapai puncak pada minggu keempat. Namun, itu sangat bergantung jenis mikroba atau virus tersebut. Antibodi itulah yang hendak dideteksi rapid test model kedua tersebut. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Korona (Covid-19) Achmad Yurianto mengatakan, hasil rapid test negatif belum bisa memastikan bahwa seseorang terbebas dari Covid-19.
Mengapa demikian? Sudah kami jelaskan di awal bahwa antibodi tubuh terhadap penyebab infeksi baru muncul pada minggu pertama dan secara bertahap meningkat di minggu-minggu berikutnya. Saat seseorang baru terinfeksi, misalnya pada ODP (orang dalam pemantauan), kadar antibodi masih rendah dan belum bisa dideteksi alat tersebut.
Kapan penggunaan alat tersebut bisa diulang? Itu sangat bergantung seberapa kecepatan peningkatan antibodi tersebut. Dan, dalam hal ini, ada dua faktor yang menentukan: karakter virus itu sendiri dan kharakter inang atau pasien itu sendiri.
Pada seseorang dengan penurunan imunitas seluler seperti kasus diabetes melitus, HIV/AIDS, kanker darah, atau jenis lain, kemampuan produksi antibodi sangat lambat. Walaupun infeksi sudah berjalan 3-4 minggu, belum tentu kadar antibodi meningkat signifikan.
Hal lain, di dunia kedokteran dan dunia mikrobiologi sering dikenal istilah cross reaction atau reaksi silang. Yakni, sebuah alat deteksi yang ditujukan terhadap Covid-19, tapi bisa juga yang terdeteksi adalah virus lain.
Singapura telah mengalami kasus yang didiagnosis demam dengue dengan deteksi antibodi dengue dan positif ternyata pasien Covid-19. Itu menjadi tugas pabrik pembuat dan peneliti untuk memberikan informasi lengkap tentang alat tersebut, apakah bisa bereaksi silang dengan virus apa saja.
Apakah ada rapid test Covid-19 yang bukan melalui deteksi antibodi? Alhamdulillah, saat ini ada yang sudah lolos uji dan ada yang sedang diuji klinik.
Bagaimana rapid test Covid-19 melalui deteksi antibodi? Dalam keadaan darurat, semua hal selalu ada manfaatnya. Telah diketahui, saat ini jumlah ODP maupun PDP makin meningkat.
Bagi ODP dan PDP, sudah secara rutin masuk di dalam deteksi melalui metode PCR. Namun, bagaimana masyarakat luas atau juga ODP dengan kontak ringan?
Maka, rapid test melalui deteksi antibodi yang kita sudah miliki bisa diaplikasikan. Bagi yang positif, perlu dilakukan tes ulang dengan PCR dan diikuti dengan pemberlakuan isolasi diri.
Penerapan di Indonesia
Yang menjadi pemikiran kami, bagaimana rapid test penentuan antibodi itu dilaksanakan untuk Indonesia? Ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian dan bagaimana solusinya.
1. Rapid test yang akan dilakukan secara masal melalui berkumpulnya banyak orang akan berpotensi makin menyebarnya virus tersebut.
2. Jumlah warga yang harus dites masal sangat banyak. Bagaimana memilihnya?
Untuk mencari solusi yang kiranya mampu menyelamatkan kita semua, berikut beberapa usulan kami.
1. Bagi PDP maupun ODP, khususnya yang kontak erat dan sangat berisiko, dilakukan deteksi korona dengan PCR. Itu bisa disesuaikan dengan kemampuan deteksi harian di lab yang ditunjuk.
2. Untuk semua ODP dengan kontak ringan, bisa dilakukan rapid test masal.
3. Bagi masyarakat yang masuk di daerah merah sesuai klasifikasi dinas kesehatan, secara random (acak) dilakukan rapid test.
4. Bagaimana random dilakukan? Bisa dilakukan random minimal 10 persen masyarakat dan ditingkatkan sesuai persediaan rapid test.
5. Rapid test sebaiknya tidak dilakukan dengan cara mengumpulkan masyarakat, melainkan dengan mendatangi rumah yang masuk di area random melalui petugas puskesmas atau relawan yang ditunjuk. Kalau terpaksa mengumpulkan masyarakat, perlu pengaturan jam bergilir datang ke suatu lokasi yang ditetapkan. Juga, sistem kebersihan dan pencegahan infeksi di lokasi tersebut mengikuti protokol seperti fasilitas kesehatan.
Ada dua usulan kami secara khusus kepada para pemangku kepentingan.
1. Bapak-Ibu bersama tim, secara berkala (setiap 14 hari) dipilih 10-20 persen anggota tim untuk melakukan pemeriksaan Covid-19 secara PCR. Jika ada yang positif, seluruh anggota tim perlu diperiksa.
2. Waspada dengan selalu menggunakan APD (alat pelindung diri) yang sesuai saat kontak dengan banyak orang atau lingkungan yang tidak diketahui secara jelas risikonya seperti pasar, masyarakat luas, dan kampung-kampung. (*)

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
Tempat Kuliner Bakmi Jawa Terenak di Jogja: Dimasak Pakai Arang, Rasanya Semakin Nendang
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Prediksi Skor Bayern Munich vs Real Madrid! Dua Raksasa Berjibaku Demi Tiket Semifinal Liga Champions, Siapa Bakal Melaju?
