
Miftakhul F.S
KEGEMBIRAAN itu menyeruak dimana-mana. Hampir di seluruh penjuru negeri. Wajar memang. Sebab, tim nasional yang selalu menjadi tumpuhan harapan lolos ke final Piala AFF 2016.
Bagaimanapun juga, namanya menembus final tentu menjadi pencapaian yang istimewa. Sesuatu yang menyenangkan. Juga membanggakan. Apalagi, tiket final itu digenggam oleh tim yang belepotan masalah. Tim yang penuh dengan keterbatasan.
Siapapun tahu, kalau sepak bola negeri belum benar-benar terlepas dari konflik. Bahkan, karena konflik itu, Indonesia nyaris tidak bisa tampil di Piala AFF 2016. Sanksi pembekuan yang dijatuhkan federasi sepak bola dunia baru dicabut Mei lalu. Hanya lima bulan jelang gelaran turnamen sepak bola antarbangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut.
Persiapan tim pun sangat mepet jadinya. Sudah begitu, jajaran pelatih tim nasional tak bisa leluasan memilih pemain. Setiap klub membatasi diri. Mereka hanya melepas dua pemain saja ke tim nasional. Celakanya, saat hendak berangkat ke turnamen, pemain yang terpilih ada yang cedera. Karena itu, dengan segala masalah yang mengiringi itu, pencapaian tim nasional ini terbilang istimewa.
Tapi, pencapaian yang terbilang istimewa ini sejatinya belum benar-benar istimewa. Atau lebih halusnya keistimewaan ini sebenarnya menyisakan banyak lubang. Dan tentunya belum benar-benar sempurna.
Perlu diingat, lolos ke final Piala AFF bukanlah tiket pertama bagi negeri ini. Sudah lima kali ini negeri ini mencapai partai puncak. Selain tahun ini, kita pernah berada di final tahun 2000, 2002, 2004, dan 2010. Di arena SEA Games, setelah kemenangan pada 1991, Indonesia tiga kali tampil di final. Tepatnya pada SEA Games 1997, 2011, dan 2013.
Yang juga perlu diingat pula, cara bermain kita di Hanoi -yang menentukan lolos ke final- sangat melelahkan. Bukan saja buat para pemain. Tapi, juga untuk yang menonton -yang selalu menaruh harapan sejak 1991 silam.
Permainan di Stadion My Dinh, Hanoi, 7 Desember itu, sungguh menggemaskan dan sekaligus mencemaskan. Bagaimana bisa, saat melawan sepuluh pemain dan itupun Vietnam hanya menggunakan penjaga gawang yang tak semestinya di 15 menit akhir waktu normal, kita malah dikurung setengah lapangan. Kebobolan dua gol pula. Tiket final yang sudah dalam genggaman pun harus terlepas dan diperjuangkan kembali.
Hati siapa coba yang tidak geregetan? Suporter Indonesia mana coba yang tidak dibuat spot jantung? Apalagi, malam itu, yang di lapangan hanya bisa menendang dan membuang bola jauh-jauh dari pertahanan sendiri.
Sah-sah saja memang mengatakan itu bagian dari strategi bermain. Boleh-boleh saja menyebutnya itu sebagai taktik. Namun, siapapun yang melihat pertandingan tersebut jelas memandang ada yang salah dengan cara main Indonesia di Hanoi malam itu. Kita bukannya memainkan bola, tapi dipermainakan bola.
Dan perlu pula diingat, di penyisihan grup, penampilan Indonesia juga tak lebih bagus. Tidak lebih baik. Kita -yang menonton- hanya bisa menikmati permainan tim nasional pada menit-menit awal babak kedua saat Indonesia berhadapan dengan Thailand.
Selebihnya, kita menonton dengan gemas dan cemas. Selebihnya, tim ini terlihat seperti bermain tanpa pola. Tanpa arah. Asal menendang bola ke depan. Ke tempat pertahanan lawan. Memang tak bisa dipungkiri kalau tetap ada usaha mencetak gol. Namun, usahanya itu tak dikonsep.
Meski begitu, sekali lagi, tak ada yang salah memang dengan menyeruaknya kegembiraan dimana-mana takkala tim nasional lolos ke final. Bagaimanapun juga, dengan tiket final itu, setidaknya harapan untuk melihat Merah Putih berkibar tinggi semakin dekat. Dengan tiket final itu, dahaga yang sudah tertahan sejak 1991 setidaknya bisa segera terlepaskan.
Tapi, kegembiraan tersebut tak sepatutnya membuat kita puas diri. Tak selayaknya kita terlalu larut. Ingat kita baru sampai final. Kita belum juara. Sebab, yang sudah-sudah, kita ini seperti sudah merasa menjadi juara, padahal kita baru sampai final.
*)Wartawan Jawa Pos

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
