alexametrics

Ironi Manajemen Risiko Pertamina

Oleh AUGUSTINUS SIMANJUNTAK *)
1 April 2021, 19:48:07 WIB

KEBAKARAN di tangki kilang PT Pertamina Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat (29/3), mengindikasikan lemahnya manajemen risiko operasional produksi korporasi pelat merah. Apa pun penyebab kebakaran kilang tersebut (seperti dugaan tersambar petir), tidak seharusnya terjadi jika korporasi yang hampir berusia 64 tahun ini terus melakukan improvement yang berkelanjutan. Utamanya dalam mengidentifikasi ragam risiko bahaya yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Publik tentu kaget dan cukup kecewa jika salah satu perusahaan kebanggaannya masih bisa mengalami kebakaran hebat yang berdampak luas terhadap ragam stakeholders. Kerugian akibat kebakaran ini bukan sekadar potensi kehilangan produksi sebesar 400.000 barel. Tetapi juga dampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Dampaknya bukan hanya mengganggu suplai kebutuhan bahan bakar bagi masyarakat. Melainkan juga hancurnya infrastruktur Pertamina Balongan yang pembangunannya butuh sumber daya dan biaya yang tidak sedikit.

Perlu diingat, proyek industri tambang seperti Pertamina memiliki kompleksitas operasional yang tinggi. Karena itu, dibutuhkan kajian risiko bahaya dari interdisipliner keilmuan. Seperti teknologi industri, lingkungan, sosial ekonomi, dan budaya.

Misalnya, jika terjadi kebakaran tidak seharusnya menimbulkan risiko bahaya bagi warga sekitar. Apalagi sampai menimbulkan korban. Pertamina sebagai perusahaan besar di republik ini tidak sepatutnya menerapkan sistem manajemen risiko berstandar umum yang bergantung pada nilai kontingensi dalam harga kontrak atau hanya berurusan dengan risiko jika bahaya sudah terjadi. Toh, dengan model seperti itu, risiko yang terjadi pun tak langsung bisa dimitigasi tuntas.

Selama ini, Pertamina memang sudah berupaya menanggulangi kebakaran atau menurunkan risiko bahaya berdasar ketentuan pemerintah dan standar nasional Indonesia (SNI) serta National Fire Protection Association (NFPA). Namun, saat Pertamina yang semakin besar dan kian rentan dengan risiko (termasuk bencana alam atau tersambar petir), sudah saatnya mereka mengidentifikasi ragam risiko dalam kilang minyaknya lewat studi literatur. Kajian dan data tentang risiko tambang minyak sudah banyak dibahas dalam jurnal-jurnal internasional.

Memang, kejadian dan tingkat keparahan faktor risiko di Pertamina sangat bergantung pada karakteristik operasional dan kondisi lingkungannya. Namun, identifikasi risiko kebakaran atau bahaya lainnya sejak awal harus dilakukan dengan memakai data riset atau berdasar studi literatur pertambangan minyak.

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads