
Ilustrasi lokasi tambang
JawaPos.com - Sekitar tujuh tahun lalu saya menjadi penambang ilegal di bantaran Sungai Batang Hari, Jambi. Selain razia aparat, risiko tertinggi adalah tertimbun longsor.
Orang di kampung menyebutnya ketimbus. Sudah banyak teman dan tetangga yang ketimbus. Meski begitu, pekerjaan sebagai penambang emas ilegal tidak akan ditinggalkan mereka. Sebab, urusannya perut.
Saat itu warga kampung halaman saya di daerah Kabupaten Pati, Jateng, sangat bergantung pada pekerjaan sebagai penambang. Mereka tersebar di beberapa pulau. Mulai daerah Bombana, Sulawesi; Ambon; Samba, Katingan, Kalimantan; Palembang; hingga Padang. Bahkan, ada yang sampai Papua.
Saat Lebaran, para pemuda yang menjadi penambang ilegal itu pulang kampung. Kami saling berbagi pengalaman. Dari sanalah saya tahu bahwa cara menambang emas itu berbeda-beda. Ada yang menggunakan mesin dompeng, kapal lanting, hingga cara manual. Yang manual itu biasanya menggunakan linggis dan cangkul. Linggis dipakai untuk membuat lubang-lubang di perbukitan. Kami mengenal cara itu dengan istilah "lubang tikus".
Selama setahun saya tiga kali bolak-balik menjadi penambang di bantaran Sungai Batang Hari, masuk wilayah Solok Selatan. Dua bulan tinggal di tempat penambangan dan sebulan di rumah untuk istirahat. Begitu seterusnya.
Biasanya kami berangkat bersama rombongan yang berjumlah 12 orang. Satu sebagai kepala rombongan dan satu lagi bertugas sebagai juru masak di lokasi tambang. Kami biasa berangkat dari kampung halaman dengan menggunakan bus. Perjalanan ditempuh dua hari tiga malam.
Di sana sudah ada beberapa tempat penampungan untuk penambang dari Jawa. Begitu jemputan mobil pikap datang, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah bendungan di Sungai Batang Hari. Namun, itu bukan tujuan penambangan. Kami masih harus melanjutkan perjalanan menuju lokasi penambangan dengan menggunakan perahu getek.
Kami juga harus menyiapkan berbagai kebutuhan penambangan. Ada terpal untuk tempat tinggal kami selama di hutan dan beberapa bahan makan untuk kebutuhan selama dua minggu ke depan.
Maklum, lokasi tambang jauh dari pasar. Jangankan pasar, dari kampung saja cukup jauh. Juragan juga menyiapkan segala kebutuhan untuk aktivitas pertambangan. Yakni, 2 mesin dompeng, 1 mesin untuk "menembak" dan 1 lagi untuk menyedot.
Biasanya kami tinggal di lokasi pertambangan di dalam hutan selama dua bulan. Kami membangun kamp-kamp dengan menggunakan terpal dan beberapa papan. Tidur beralas tikar di atas papan dan berbantal karpet. Tanpa lampu, tanpa jaringan telekomunikasi. Hanya ada oncor sebagai penerangan saat malam tiba.
Kadang kami harus membongkar dan memindah kamp. Bukan karena razia aparat, tetapi karena di lokasi yang kami tambang tidak ada hasilnya. Beberapa kali pindah lubang di sekitar kamp, hasilnya sama. Jika sudah begitu, berarti kami harus segera mencari lokasi baru. Pemindahan kamp, peralatan masak, dan kebutuhan lain biasanya butuh waktu dua hari. Sebab, di sana tidak ada kendaraan untuk mengangkut barang-barang tersebut. Pemindahan harus dilakukan dengan cara dipanggul dan berjalan kaki. Termasuk mesin dompeng yang berat satu unitnya mencapai 2 kuintal itu.
Pemindahan dua mesin tersebut biasanya dilakukan penambang berbadan gede. Mereka akan membawa mesin itu menyeberangi sungai dan perbukitan.
Meski begitu, lokasi yang baru belum tentu lebih baik dari sebelumnya. Bisa saja di sana juga tidak ada emas sama sekali.
Ketika lokasi yang baru berada di tepi sungai, biasanya di sana sudah ada beberapa kapal yang juga melakukan aktivitas penambangan. Orang-orang menyebutnya kapal lanting. Untuk mendapatkan emas, kapal tersebut harus memasukkan spiral khusus yang terhubung dengan mesin sedot. Tujuannya, mencari material-material yang mengandung emas.
Emas yang kami peroleh tidaklah menentu. Pernah kami hanya memperoleh setengah gram emas. Emas tersebut harus dibagi dengan sebelas penambang lain. Namun, saat memperoleh lokasi bagus, hasilnya juga bagus. Kami pernah mendapat 1 ons emas dalam waktu sehari saja. Artinya, hari itu kami bisa memperoleh gaji Rp 1 juta.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
