JawaPos Radar

Pilpres 2019

Manuver SBY untuk Demokrat Jelang Pendaftaran Capres-cawapres

29/07/2018, 12:34 WIB | Editor: Ilham Safutra
Manuver SBY untuk Demokrat Jelang Pendaftaran Capres-cawapres
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto usai menggelar pertemuan di Mega Kuningan pekan lalu, (Miftahulhayat/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Dinamika politik menjelang hari pendaftaran pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) terus berkembang. Peta politik semakin dinamis. Apalagi sejak Susilo Bambang Yudhyono (SBY) selaku ketua umum Partai Demokrat terus bermanuver.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Watch for Democracy (IWD) Endang Tirtana, Partai Demokrat telah mengubah peta koalisi oposisi di akhir-akhir batas waktu pengajuan capres-cawapres. Melihat beberapa pertemuannya SBY dengan sejumlah pimpinan parpol, saat ini Partai Demokrat dalam posisi diuntungkan. Apalagi "akad politik" Gerindra-Demokrat benar-benar terjadi.

"Ini koalisi alternatif di tengah koalisi yang hampir solid antara Gerindra, PKS dan PAN. Munculnya Demokrat sebagai mitra alternatif tentu sangat stategis bagi Prabowo. Namun tentu ada yang bakal gigit jari," kata Endang dalam keterangan persnya yang diterima JawaPos.com, Minggu (29/7).

Manuver SBY untuk Demokrat Jelang Pendaftaran Capres-cawapres
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Endang menambahkan, melihat gaya politiknya para politisi, duet Prabowo-AHY termasuk yang paling ideal ketimbang harus berpasangan dengan salah satu nama yang diajukan PAN atau PKS. Demokrat dan Gerindra dalam posisi saling menguatkan.

"Gerindra tidak akan kehilangan magnit elektoralnya dengan menggandeng Demokrat. Sebaliknya Demokrat juga bisa mendongkrak elektabilitasnya akibat kebanyakan berada di posisi netral, apalagi ada AHY sebagai magnit baru.”

Dengan dinamika itu, Endang menilai, tentu PKS dan PAN tidak bisa lagi bisa menyandera Gerindra karena rebutan posisi Cawapres. Dalam dilema seperti ini PAN dan PKS tidak ambil bagian dalam koalisi Gerindra-Demokrat yang murni hanya pertimbangan pragmatis.

"Dengan menjaga jarak dengan koalisi Gerindra dan Demokrat, PAN dan PKS punya basis umat yang kuat. Mereka bakal mendapat simpati publik karena dianggap konsisten dan tidak ikut-ikutan menjadi pragmatis. PAN dan PKS bisa dikatakan dalam posisi dikhianati. Namun bukankah itu bagus untuk dikapitalisasi oleh PKS dan PAN untuk mendongkrak elektabilitas mereka di Pemilu 2019. Publik juga tahu mana loyang mana emas,” pungkasnya.

(iil/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up