Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Desember 2020 | 18.41 WIB

Kepala Daerah Muda Dituntut Hadirkan Gagasan-Gagasan Baru

KEPALA DAERAH MUDA: Indrata Nur Bayu Aji (cabup Pacitan)-Rezita Meylani Yopi (cabup Indragiri). (JAWA POS) - Image

KEPALA DAERAH MUDA: Indrata Nur Bayu Aji (cabup Pacitan)-Rezita Meylani Yopi (cabup Indragiri). (JAWA POS)

JawaPos.com – Cibiran menerpanya jauh sebelum coblosan. Sejak gambar baliho kampanyenya yang memuat tulisan ”keponakan SBY” beredar luas.

Tapi, Indrata Nur Bayuaji menanggapi terpaan cibiran itu dengan santai.

”Lha faktanya memang saya keponakan beliau (Susilo Bambang Yudhoyono, presiden keenam Indonesia, Red). Kalau saya menampik, justru kualat,” katanya ketika itu dalam sebuah acara temu media di Pacitan seperti dikutip Jawa Pos Radar Madiun.

Dan, cibiran itu memang akhirnya kalah dari suara rakyat Pacitan di pilkada. Aji, sapaan akrabnya, di usianya yang baru 27 tahun menuju kursi bupati Pacitan. Data dari sirekap (sistem informasi rekapitulasi) KPU menunjukkan dia unggul jauh.

Aji merupakan satu di antara beberapa calon pemimpin daerah hasil pilkada 2020 yang masih berusia di bawah 35 tahun. Tiga kabupaten lain di Jawa Timur, yakni Tuban, Kediri, serta Sidoarjo, juga berpeluang dipimpin bupati yang bahkan belum berusia 30 tahun.

Baca juga: Belum Tentu Bernasib seperti sang Bapak

Sementara itu, M. Nur Arifin, 30, yang tengah memimpin perolehan suara di pilkada Trenggalek malah sudah dua tahun ini menggantikan Emil Dardak sebagai bupati di kabupaten tetangga Pacitan tersebut. Dan, punya kans besar untuk kembali menduduki jabatan tersebut berdasar penghitungan suara sementara. Tentu ada pula Gibran Rakabuming Raka, 33, yang unggul telak dalam penghitungan suara sementara di pilwali Solo.

Ini bukan fenomena di Jawa Timur atau Jawa saja. Rezita Meylani Yopi, calon bupati Indragiri Hulu, Riau, yang tengah memimpin klasemen sementara perolehan suara juga baru berusia 26 tahun. Vandiko Timotius Gultom, 28, juga tengah berjaya dalam pengumpulan suara sementara hasil pilkada Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Jangan lupakan pula Bobby Nasution, ipar Gibran, yang unggul di pilwali Medan.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin menyatakan, terpilihnya orang-orang muda itu bukan hal yang mengagetkan. Sebab, jika ditelisik lebih jauh, nama-nama muda yang berhasil naik panggung dan memenangi kontestasi memiliki orang tua dan keluarga yang juga politisi.

”Itu bukan (generasi) milenial anak orang biasa,” ujarnya kepada Jawa Pos tadi malam.

Baca juga: Ilusi Calon Perseorangan dan Oligarki

Ujang menuturkan, harus diakui akses politik di Indonesia saat ini masih didominasi orang tua. Kalaupun ada anak muda yang bisa masuk ke posisi strategis, mayoritas memiliki latar belakang keluarga di elite partai, pemerintahan, atau pengusaha.

Itu, lanjut dia, merupakan tantangan bagi demokrasi Indonesia. Sebab, regenerasi politik tidak berjalan secara sehat.

Kalaupun mau bersaing, biasanya mereka membutuhkan materi yang tidak sedikit. Sementara itu, yang tak punya akses kedekatan dan materi harus bekerja keras serta sabar menanti. ”Banyak milenial yang berprestasi, tapi ga punya uang, susah juga,” kata jebolan doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia itu.

Dengan kondisi berada di lingkaran oligarki, Ujang tak yakin para pemimpin muda kelak dapat bekerja secara maksimal. ”Kasus korupsi ratusan kepala daerah ditangkap, salah satunya terkait oligarki dan dinasti politik. Ada risiko seperti itu,” ungkapnya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=Rfb97J26abI

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore