Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 November 2020 | 23.29 WIB

Ketika Megawati Cerita Dirinya Ditantang Debat Mahasiswa di AS

Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri saat pembukaan Kongres V PDI-P di Hotel Grand Inna Bali Beach, Kamis (8/8/2019).--raka denny/jawapos - Image

Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri saat pembukaan Kongres V PDI-P di Hotel Grand Inna Bali Beach, Kamis (8/8/2019).--raka denny/jawapos

JawaPos.com - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bercerita saat dirinya berkunjung ke Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itu, Mega diajak berdebat oleh para pemuda Indonesia yang belajar di sana.

Dalam pertemuan itu, Mega menceritakan kisahnya kepada para mahasiswa Indonesia itu. Ia juga menuturkan bahwa anak muda Indonesia cenderung kurang mau membaca dan belajar dari pengalaman pahlawan serta sejarah perjuangan bangsa di masa lalu.

"Mereka datang beberapa orang sebagai perwakilan. Saya terdiam. Saya tahu mereka pasti belum baca. Jadi saya bilang, kalau nanti kita mau debat, kalian belum baca sejarah lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945 nanti namanya debat kusir alias, koprol bambu. Kalau seperti itu saya tidak bersedia," kata Megawati dalam webinar dengan tema Dialog Kebangsaan Pembudayaan Pancasila dan Peneguhan Kebangsaan Indonesia di Era Milenial, yang diadakan oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ), (10/11).


Bahkan Megawati menginformasikan para mahasiswa itu bisa mencari informasi ke University of Hawai. "Saya bilang coba datang ke situ, kamu cari, kamu baca. Saya janji kalau saya ke Amerika lagi, jemputlah saya, tapi dengan perjanjian kamu sudah baca," kata Megawati.

Di kesempatan berikutnya saat ke AS, justru Megawati yang mengontak para mahasiswa itu. Kemudian ketika diajak berdebat, para mahasiswa sudah lebih memahami falsafah bangsa tersebut.

"Ayo apa yang kalian tanyakan kepada saya? Mereka bilang gini. Enggak jadi bu, kita enggak usah debat. Lah kenapa? Karena kami sudah mengerti apa maksud dan isi pidato itu. Jadi? Ya seharusnya seperti itu," kata Megawati.

"Banyak sekali bukti otentik yang bisa kita daparkan di Arsip Nasional dan lain sebagainya. Sehingga para pemuda kita sekarang mengerti bagaimana jalan pemikiran, bukan hanya Bung Karno saja sebagai prokamator, tapi para pemimpin bangsa yang lain," tambahnya.

Baginya, di Hari Pahlawan adalah momen mengajak untuk melihat perjuangan anak-anak bangsa mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah diraih. Menurut dia, momentum mempertahankan kemerdekaan Indonesia, itu digaungkan oleh para santri pada 22 Oktober 1945, dengan semangat hubbul wathon minal iman.

"Semangat hubbul wathon minal iman oleh para santri melalui revolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 menjadi api semangat bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia," kata Megawati.

Semangat inilah, lanjut dia, membawa sampai ke Surabaya, tepatnya di Hotel Yamato. Di mana para pemuda dengan gagah berani naik ke puncak gedung tertinggi, merobek warna biru pada bendera Belanda. Bendera tersisa dijadikan sang saka merah putih.

"Generasi muda mustinya mengetahui heroiknya sejarah tersebut," kata Megawati.

Karena itu, dia mengusulkan untuk semua pihak memutarkan kembali film-film dokumenter perjuangan bangsa Indonesia. Tujuannya agar generasi muda sekarang bsia membayangkan bagaimana sebenarnya perjuangan para pemuda di era kemerdekaan itu.

"Sehingga generasi kita tetap mengerti bahwa mengapa Hari Pahlawan ini disebut Hari Pahlawan. Terbayangkankah kalau sekiranya kita merdeka itu dengan diberi? Saya kira tidak akan ada namanya pahlawan," pungkasnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore