
TAK TERPENGARUH: Lalu lintas pengiriman barang di Terminal Teluk Lamong Sabtu (16/5). (Riana Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com - Banyak pihak menilai bahwa ekspor saat ini membutuhkan inovasi. Berbeda dengan dahulu, di mana jika produksi barang dalam kondisi baik dan harga murah, tentunya dapat langsung dipasarkan tanpa perlu adanya inovasi.
Menanggapi itu, Plt Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Nizam pun menyampaikan, untuk inovasi ekspor dapat dilakukan dengan cara menghubungkan perguruan tinggi sebagai lembaga riset dan industri atau perusahaan sebagai pasar. Ia turut menjelaskan bahwa saat ini yang dibutuhkan tidak hanya ide tetapi sudah harus mencakup langkah penggerak.
“Inovasi dalam bidang ekspor ini dapat dilakukan dengan menghubungkan perguruan tinggi selaku titik produksi (riset) dan industri selaku pasar. Sehingga fokus kita connecting the dots (menghubungkan titik) dalam berbagai platform baik formal maupun non-formal," terang dia dalam siaran resmi, Senin (20/7).
"Create into action sebagai langkah penggerak sehingga bukan hanya ide yang dikembangkan namun juga aktualisasinya. Lebih baik mencoba 1000 kali kemudian berhasil daripada tidak mencoba sama sekali kemudian pada akhirnya tidak berhasil," tambah dia.
Apalagi, menurut dia, Indonesia memiliki nilai kreativitas yang baik. Dengan begitu, inovasi dapat mudah dimunculkan. Terutama selama masa pandemi ini yang juga diharapkan inovasi dapat tetap terus meningkat.
“Bangsa Indonesia memiliki kelebihan yaitu kreativitas yang unik. Setiap sudut daerah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke memiliki kekayaan dan keunggulan seni dan kreativitas. Pandemi saat ini diharapkan juga dapat menjadi batu loncatan yang lebih tinggi terhadap inovasi yang ada. Kedai Inovasi (Kedaulatan Indonesia untuk Inovasi) contohnya, salah satu proyek penampungan inovasi yang akan diluncurkan dalam waktu dekat," ujarnya.
Sementara itu, Maryono, selaku ketua Presidium III Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (HIMPUNI) turut setuju dengan konsep connecting the dots, menurutnya langkah yang harus ditempuh adalah eksekusi dengan adanya kolaborasi.
“Sudah selayaknya dilakukan kolaborasi antara Perguruan Tinggi dan industri/perusahaan. Tiga langkah yang harus dilakukan adalah eksekusi, eksekusi, dan eksekusi tapi diiringi dengan kolaborasi," jelasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=9B0ZXbeO4Pc
https://www.youtube.com/watch?v=s7EHdbHkwKA
https://www.youtube.com/watch?v=mGzKb-GqnLc

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
