Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 April 2020 | 23.22 WIB

KPAI Kantongi Pengaduan, Belajar di Rumah Jadi Beban Murid dan Guru

EFEK PANDEMI: Seorang siswa kelas X SMA mengikuti penilaian tengah semester (PTS) secara online di rumahnya, Pulo Gebang, Jakarta, Selasa (13/4). (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS) - Image

EFEK PANDEMI: Seorang siswa kelas X SMA mengikuti penilaian tengah semester (PTS) secara online di rumahnya, Pulo Gebang, Jakarta, Selasa (13/4). (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

JawaPos.com - Tak sampai sebulan, ratusan pengaduan masuk ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ). Beban penugasan sekolah yang jadi keluhan.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menyatakan, 213 pengaduan tentang PJJ yang mengalir sejak 16 Maret hingga 9 April tersebut telah dianalisis tim pengaduan KPAI. Ada beberapa hal yang jadi sorotan.

Pertama, penugasan yang dinilai berat dan waktu pengerjaan yang pendek. ”Ada siswa SMP yang pada hari kedua PJJ sudah mengerjakan 250 soal dari gurunya. Ada siswa SD di Bekasi yang diminta mengarang lagu tentang korona,” ucap Retno kemarin (13/4) saat telekonferensi.

Selain itu, ada keluhan mengenai tugas merangkum buku. Ada juga sekolah yang memberlakukan pembelajaran disamakan dengan jam belajar di sekolah. Keluarga yang mendapat upah harian juga merasa kesulitan membeli kuota internet untuk pembelajaran daring.

KPAI juga menemukan kejenuhan dalam menjalankan PJJ. Hal itu tidak hanya diakui siswa, tapi juga guru. Retno merekomendasikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Kementerian Agama (Kemenag) untuk segera menetapkan kurikulum dalam situasi darurat. KPAI juga akan membentuk tim pengkajian seiring perpanjangan masa belajar jarak jauh akibat pandemi Covid-19. Perpanjangan waktu itu diperkirakan hingga kenaikan kelas tahun pelajaran 2019-2020 pada akhir Juni.

”Tim tersebut akan melakukan monitoring dan evaluasi terkait PJJ dan ujian kenaikan kelas.”

Masalah pemberian tugas yang terlalu menumpuk itu diakui Direktur GTK Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikbud Praptono sempat terjadi. Sebab, sebagian guru masih terpaku pada penuntasan isi kurikulum.

”Itu yang kemudian menyebabkan penugasan-penugasan yang diberikan kepada peserta didik menjadi sangat banyak.”

Padahal, lanjut dia, dalam kondisi saat ini hal itu bukan tuntutan utama. Yang ditekankan, bagaimana kegiatan belajar-mengajar bisa lebih efektif. Misalnya dengan project base learning. Pihaknya juga telah menyosialisasikan hal itu kepada para guru.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=vWO0EA8RaV4

 

https://www.youtube.com/watch?v=_KsJbJKfRz8

 

https://www.youtube.com/watch?v=5zSqxfCX3yQ

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore