Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 Desember 2020 | 00.05 WIB

Survei Nasional: Ini yang Harus Disiapkan Sekolah sebelum PTM Dimulai

PERSIAPAN: Guru SMAN 16 Surabaya Retno Yuniarti (kanan) dan Suhada mengatur jarak kursi di sekolah yang berlokasi di Jalan Prapen itu. (Robertus Risky/Jawa Pos) - Image

PERSIAPAN: Guru SMAN 16 Surabaya Retno Yuniarti (kanan) dan Suhada mengatur jarak kursi di sekolah yang berlokasi di Jalan Prapen itu. (Robertus Risky/Jawa Pos)

JawaPos.com - Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) merilis hasil survei terkait dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) serta kesiapan guru dalam pembelajaran tatap muka (PTM). Di mana pengumpulan data dilakukan mulai dari 24 sampai 27 November 2020 dengan 320 responden di 100 kabupaten yang berada di 29 provinsi seluruh Indonesia.

Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim menjelaskan perihal komponen yang harus disiapkan oleh para guru sebelum PTM dilaksanakan pada Januari 2021. Pertama adalah 90 persen responden meminta adanya protokol kesehatan yang dibuat oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah.

’’Yang kedua adalah sebanyak 78 persen guru menjawab sosialisasi kepada orang tua dan siswa, karena pemahaman orang tua terhadap SKB 4 menteri ini penting, sebab kita tahu di dalam revisi SKB 4 menteri jilid 3 itu kunci terakhir ada pada perizinan dari orang tua, karena orang tuanya mengizinkan, maka anak bisa PTM kalau orang tuanya tidak mengizinkan, maka anaknya tidak bisa ikut PTM,’’ jelasnya dalam telekonferensi pers Paparan Survei Nasional P2G, Kamis (3/12).

Kemudian, komponen ketiga sebesar 74 persen guru meminta adanya standar operasional prosedur (SOP) yang disiapkan oleh sekolah. Seperti pengaturan jam belajar, shift, jadwal guru, pembagian kelas, pembagian masker, aturan tata terbit protokol kesehatan hingga pengaturan tugas siswa.

Dia pun memberikan contoh opsi yang bisa diadopsi oleh sekolah dalam pembelajaran nanti, yakni murid ada yang belajar di sekolah dan ada juga yang belajar daring. Namun, tentunya hal ini hanya bisa dilakukan apabila infrastruktur jaringan internet mendukung.

’’Bisa saja mereka ikut serta secara paralel ya belajar dari Zoom. Jadi sebagian teman-teman yang mengajar kelas, sisanya belajar lewat Zoom atau lewat daring,’’ tambahnya.

Kemudian, yang diminta untuk dipenuhi oleh sekolah sebesar 71 persen adalah soal kesiapan budaya 3M. Selanjutnya komponen kelima berjumlah 70 persen, kesiapan sarana dan prasarana infrastruktur sekolah yang mendukung PTM, seperti wastafel, hand sanitizer, hingga pembatas antar meja di kelas.

Keenam, 68 persen guru menilai koordinasi dengan semua pemangku kepentingan, seperti dengan komite sekolah, orang tua, dinas pendidikan, dinas kesehatan juga penting. Begitu juga dengan puskesmas setempat, Satpol PP, dinas perhubungan dan lainnya.

’’Komponen ketujuh, 64 persen guru meminta kesiapan segmen sekolah, yayasan dalam menyiapkan semua (8) komponen ini. Yang terakhir adalah kesiapan anggaran 56 persen, ini menjadi sangat vital sebab semua sarana prasarana di atas bergantung kepada pendanaan sekolah,’’ urainya.

Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas guru di atas 55 persen menjadikan 8 komponen tersebut sebagai kebutuhan utama sebelum membuka sekolah dalam PTN pada Januari 2021. (*)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=HHWGSRzudo4

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore