JawaPos Radar

Dalami Peran Idrus Marham, KPK Bakal Periksa Sofyan Basir

27/08/2018, 15:28 WIB | Editor: Ilham Safutra
Dalami Peran Idrus Marham, KPK Bakal Periksa Sofyan Basir
Dirut PT PLN Sofyan Basir akan diperiksa di KPK (Issak Ramadhani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Status tersangka yang disandang Idrus Marham saat ini dalam kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 berimbas ke pihak lain. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memeriksa Dirut PT PLN Sofyan Basir.

Pemeriksaan terhadap mantan Dirut BRI itu dengan statusnya sebagai saksi untuk tersangka Idrus Marham. "Nanti tentu kami panggil (Sofyan Basir), kapan waktunya nanti kami infokan lagi," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (27/8).

Lebih jauh dikatakan Febri, KPK menelisik Sofyan sebagai saksi untuk mendalami proses bergulirnya proyek pembangkit listrik sebesar 35 ribu megawatt. Termasuk juga dalam prosesnya apa ada pertemuan dengan Idrus Marham.

Dalami Peran Idrus Marham, KPK Bakal Periksa Sofyan Basir
Mantan Mensos Idrus Marham (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)

"Kami akan melihat saksi sebagai dirut PLN, bagaimana proses penunjukan. Apakah ada pertemuan dengan tersangka IM (Idrus Nathan) dan yang lain tentu itu akan didalami penyidik," ungkap Febri.

Untuk saat ini, kata Febri, penyidik masih fokus pada tiga orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka yakni mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Saragih, pengusaha Johannes B Kotjo, dan eks Mensos Idrus Marham.

Terkait pemeriksaan mantan Ketua DPR RI Setya Novanto, diakui Febri, itu untuk menggali informasi terkait adanya gugatan aliran uang yang masuk ke DPR RI dan Partai Golkar.

"Kapasitas Setnov, ada dua kapasitas. Dilihat dari pengurus Partai Golkar saat itu dan sebagai Ketua DPR. Tapi fokusnya saat ini masih sejauh apa yang diketahui Setnov," pungkasnya.

KPK menduga, Idrus berperan mendorong agar Eni menerima uang Rp 4 miliar pada November dan Desember 2017, serta Rp 2,2 miliar pada Maret dan Juni 2018.

Eni diduga menerima suap sebesar Rp 500 juta yang merupakan bagian dari commitment fee 2,5 persen dari nilai proyek kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1.

Commitment fee tersebut diberikan oleh Johannes Budisutrisno Kotjo. Dalam kasus ini, KPK juga menetapkan Johannes sebagai tersangka karena memberikan suap kepada Eni.

Menurut KPK, dalam pengembangan penyidikan diketahui bahwa Idrus ikut membantu dan bersama-sama dengan Eni Maulani menerima suap. Adapun, Idrus dijanjikan uang 1,5 juta dollar AS oleh Johannes Budisutrisno.

(rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up