alexametrics

Novel Baswedan Pertanyakan Dalang di Balik Permainan Isu Taliban

21 Oktober 2021, 09:41:41 WIB

JawaPos.com – Mantan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan kembali berbicara soal isu taliban. Menurut Novel, berdasarkan pernyataan mantan penyidik KPK asal Polri, Stepanus Robin Pattuju taliban adalah orang-orang yang bekerja dengan tidak bisa dibeli tidak bisa dipengaruhi.

“Ini (isu taliban) persepsinya baik atau buruk, suatu hal yang sengaja dibuat,” kata Novel dalam akun chanel Youtube pribadinya, Kamis (21/10).

Novel mengungkapkan, isu taliban sengaja digulirkan dengan kelompok-kelompok tertentu untuk menyerang KPK. Isu taliban digulirkan kepada mereka yang berintegritas, tetapi dianggap terpapar radikalisme.

Oleh karena itu, Novel mempertanyakan dalang dibalik permainan isu taliban yang belakangan menyerang KPK.

“Mereka pakai indikator apa? Apakah kemudian orang yang membela negara dengan sungguh-sungguh dan berani berkorban adalah orang yang terpapar radikalisme atau kah orang yang mempunyai jiwa patriotik terpapar radikalisme. Bukan. Lalu mereka disuru siapa seprti itu?,” cetus Novel.

Oleh karena itu, lanjut Novel, publik diminta untuk tidak mudah menerima informasi yang belum tentu benar. Menurutnya, isu taliban sengaja digulirkan untuk mereka yang berjuang tanpa pandang bulu memberantas korupsi.

“Ini yang harus kita pahami agar kita tidak kemudian terbawa pengaruh dengan persepsi, karena tentunya ketika perjuangan untuk memberantas korupsi justru ingin diberangus, justru ingin dihentikan maka yang ada koruptor menang, koruptor berjaya,” papar Novel.

Dia mengungkapkan, jika para koruptor telah berhasil memainkan isunya. Dia khawatir perjuangan untuk memperbaiki Indonesia akan sia-sia.

“Bayangkan jika koruptor berjaya sampai terbentuk oligarki maka ada kesengsaraan untuk kita semua, rusak negara kita. Pemerintah melakukan pembangunan, melakukan perbaikan tidak akan tercapai, ini yang harus menjadi perhatian kita semua,” pungkas Novel.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Muhammad Ridwan




Close Ads