Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Oktober 2026 | 22.05 WIB

Kasus ISPA di Kalsel Tembus 10 Ribu Kasus 5 Pekan Berturut-turut

Pekatnya kabut asap imbas kebakaran lahan menyelimuti kawasan Kabupaten Balangan. Tingkat polusi udara akibat karhutla tercatat mencapai status Sangat Tidak Sehat. (M Dirga/Radar Banjarmasin) - Image

Pekatnya kabut asap imbas kebakaran lahan menyelimuti kawasan Kabupaten Balangan. Tingkat polusi udara akibat karhutla tercatat mencapai status Sangat Tidak Sehat. (M Dirga/Radar Banjarmasin)

JawaPos.com - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Selatan (Kalsel) mencapai rata-rata 10 ribu kasus per pekan selama lima pekan berturut-turut. Tren tersebut menjadi perhatian di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung di Tanah Air.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel Diauddin mengatakan, pada pekan terakhir jumlah kasus ISPA tercatat sekitar 10 ribu. Kasus tersebar di seluruh wilayah Kalsel dengan jumlah terbanyak di Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Kota Banjarbaru.

“ISPA minggu kemarin ada 10 ribuan. Tersebar di seluruh provinsi, dengan terbanyak di Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Dalam lima minggu ini kita rata-rata 10 ribuan kasus,” katanya seperti dikutip dari Radar Banjarmasin, Rabu (21/10).

Namun begitu, Diauddin mengaku bahwa langkah antisipasi terhadap dampak karhutla telah disiapkan sejak sebelum puncak musim kebakaran. 

Sejak Juli 2026, Dinkes Kalsel telah meminta seluruh rumah sakit dan puskesmas meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi kemungkinan lonjakan gangguan kesehatan akibat kabut asap.

Selain itu, Dinkes Kalsel telah menyediakan 113 titik rumah oksigen untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dukungan terkait gangguan pernapasan.

“Rumah oksigen kita sudah ada 113 titik. Kalau rumah sakit dan puskesmas, sejak Juli sudah kita minta untuk siap siaga menghadapi dampak karhutla,” tambah Diauddin.

Dinkes Kalsel memastikan fasilitas pelayanan kesehatan tetap siaga melayani masyarakat yang terdampak. Rumah oksigen juga diharapkan dapat menjadi salah satu sarana penanganan awal bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan ketika kualitas udara memburuk.

Di tengah kondisi tersebut, Diauddin meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kabut asap masih terjadi. Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun dan menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore