
Presiden Prabowo Subianto melantik Syahganda Nainggolan dan Fadli Hartono sebagai Kepala dan Wakil Kepala Bakom RI di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10). (YT Setpres)
JawaPos.com — Pergantian kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) hingga tiga kali dalam kurun waktu sekitar dua tahun dinilai perlu menjadi bahan evaluasi terhadap konsistensi dan tata kelola komunikasi pemerintah. Namun, frekuensi pergantian pimpinan tersebut tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai kegagalan komunikasi pemerintah.
Pengamat Komunikasi Politik dan Dosen Magister Ilmu Komunikasi FISIP UPN Veteran Jakarta, Azwar, mengatakan stabilitas komunikasi pemerintah tidak semestinya hanya diukur dari seberapa sering kepala Bakom berganti.
"Ukurlah stabilitas sistem komunikasinya. Kalau orang berganti tetapi sistem tetap konsisten, berarti institusinya kuat. Tetapi kalau setiap pergantian orang selalu diikuti perubahan arah komunikasi, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya orangnya, melainkan desain komunikasinya," kata Azwar saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (3/10).
Baca Juga:Jika Ingin Merangsang Kreativitas dengan Membandingkan Dua Hal, Lakukan 7 Cara Ini Menurut Psikologi
Menurut dia, Bakom merupakan lembaga yang relatif baru sehingga kontinuitas kepemimpinan penting untuk membangun sistem, kultur organisasi, jaringan media, hingga pola koordinasi dengan kementerian dan lembaga.
Dia mengatakan, Perpres 96 Tahun 2025 menyebut Bakom dibentuk untuk mengorkestrasi komunikasi dan informasi kebijakan serta program strategis pemerintah. Karena itu, pergantian pimpinan sebanyak tiga kali dalam waktu relatif singkat menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas dan konsistensi desain strategi komunikasi pemerintah.
"Pada fase awal sebuah lembaga, kontinuitas kepemimpinan sebenarnya penting untuk membangun sistem, kultur organisasi, jaringan media, serta pola koordinasi dengan kementerian dan lembaga," katanya.
Meski demikian, Azwar menilai belum tepat jika pergantian tersebut langsung disimpulkan sebagai kegagalan. Menurut dia, yang lebih relevan adalah melihat apakah pergantian figur turut mengubah arah dan sistem komunikasi pemerintah.
"Yang dapat dikatakan secara akademik adalah bahwa frekuensi pergantian tersebut menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi strategi dan kelembagaan komunikasi pemerintah," jelasnya.
Dia menilai pergantian kepala Bakom menjadi ujian terhadap kematangan sistem komunikasi pemerintah. Sebab, pergantian pimpinan seharusnya tidak otomatis diikuti dengan perubahan strategi dan institutional memory.
"Kepala boleh berganti, tetapi strategi, institutional memory, koordinasi, dan konsistensi pesan pemerintah seharusnya tidak ikut berganti," tutur Azwar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022